Saya Generasi Bingung, atau Dunia yang Belum Sempat Saya Pahami?
(Tadabbur Daur part 7)

Saya kira, dengan berikhtiar mengelola diri secara jernih, jujur apa adanya, jangkep-presisi; semua persoalan yang dihadapi sudah cukup dapat dibilang tuntas—sejak dalam pikiran. Entah itu mengetahui kapan harus berhenti, kapan harus melangkah, atau sederhananya ialah memahami tentang batasan diri.
Seminimalnya, dalam kondisi seperti itu, saya bisa memetakan: mana yang masuk lingkar perhatian, mana yang lingkar peduli, dan mana yang wilayah lingkar pengaruh. Sehingga, saya tidak perlu grusa-grusu berbicara tentang hal-hal yang kompleks, rumit, bahkan njlimet. Sebut saja bicara soal bangsa, negara, geopolitik dunia, hingga dinamika sosial-kultural hari ini.
Tetapi, ketika coba saya pikirkan, renungkan, dan endapkan lagi semua topik-topik tersebut, ternyata ada celah lain yang belakangan luput saya sadari. Sebagai konteks ruang, maupun waktu, dalam hemat yang saya pahami, semuanya itu ternyata tidak sesederhana diucap maupun ditulis semata.
Mengetahui, mengelola, membaca, serta memetakan diri sendiri itu memang penting. Sangat penting. Pertama, dengan mengenali diri sendiri, saya bisa tahu bahwa terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya.
Adanya tubuh saya secara jasmani, misalnya : ada otak, syaraf, jaringan otot, daging, tulang, darah, mata, hidung, telinga, mulut, rambut, dan seluruh komponen tubuh yang melekat. Berikutnya, adanya tubuh saya secara ruhaniah, misalnya : energi untuk berpikir, energi untuk merasa, energi untuk menyerap fakta kehidupan melalui panca indera, dan sebagainya.
Dan, secara terang benderang sudah dijelaskan oleh Allah SWT sendiri lewat firman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 21, berbunyi:
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
“(Begitu juga ada tanda-tanda kebesaran-Nya) pada dirimu sendiri. Maka, apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat ayat 21).
Bahkan, Allah SWT dalam ayat berbeda juga menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Manusia punya akal, hati, sekaligus nafsu. Malaikat hanya punya hati, tanpa akal. Hewan hanya punya nafsu, tanpa punya akal. Itu yang saya tadabburi dalam Surat At-Tin ayat 4, berbunyi:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْٓ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍۖ
“Sungguh, kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin ayat 4).
Pentingnya yang kedua ialah, sebagai manusia kita diciptakan dengan sebaik-baiknya. Itu yang wajib saya sadari. Bahwa, adanya saya di dunia juga tidak murni bikinan saya sendiri. Meskipun ada perantara melalui mekanisme biologis ayah dan ibu saya, tetapi seluruh komponen, kandungan, juga muatannya juga bukan murni dari manusia. Sejatinya semua itu merupakan karya Allah SWT. Maka, apakah ada alasan lagi buat mengelak bahwa itu bukan termasuk tanda-tanda kebesaran-Nya?
Namun, keresahan yang menjadikan pertanyaan berikutnya ialah: memahami dan mengenali diri itu memang penting. Bahkan itu semua adalah langkah atau tahap awal yang tidak bisa dilewati.
Namun, jika hanya berhenti di sana diam-diam juga bisa menimbulkan sebuah ilusi baru bagi saya. Seakan-akan setiap persoalan di dunia cukup diselesaikan di dalam diri sendiri, tanpa perlu ada upaya sungguh-sungguh untuk memahami dunia yang lebih luas.
Padahal, disadari atau tidak, hidup ini tidak hanya berlangsung di dalam diri sendiri saja. Ada sesuatu yang lebih besar—secara fisik—yang sering kali luput saya baca secara jangkep. Entah itu sejarah dunia, politik, geopolitik dunia, atau bahkan sistem nilai yang sudah terbentuk dan dianut jauh sebelum saya dilahirkan di dunia. Saya tidak benar-benar memulai dari nol. Saya telah lahir dalam situasi yang sudah penuh dengan kepentingan narasi, dan arah yang tidak sepenuhnya saya kehendaki.
Dalam konteks ini, saya mulai menyadari barangkali selama ini saya terlalu percaya bahwa kejernihan diri itu cukup disimpan sebagai pawon, yang saya jadikan sebagai pijakan dalam memahami dunia yang kompleks dan rumit. Namun sebaliknya, bisa jadi kejernihan yang saya maksud itu juga dibentuk oleh circle lingkungan yang tidak sepenuhnya netral. Saya teringat pada kegelisahan tentang Anomali Regenerasi (Daur 1 – 258). Tentang mereka yang disebut ubyang-ubyung, mudah terbawa arus, dan tidak punya kegelisahan diri untuk menjadi subjek atau objek.
Tetapi sekarang saya mulai bertanya ulang terhadap tulisan saya sendiri sebelumnya—Anomali Regenerasi, Depresi, dan Jalan Shiraatal Mustaqiim—apakah benar demikian? Atau jangan-jangan saya sedang melihat dari sudut pandang yang terlalu sempit? Dari pengalaman saya sendiri, dari lingkar yang saya jalani, dari apa yang kebetulan saya temui.
Sebab, kalau ditarik lebih jauh, lebar, mendalam, dan meluas lagi, menjadi ubyang-ubyung juga tidak lahir dari ruang hampa. Ada begitu banyak hal dan juga faktor-faktor yang membentuknya. Dan, saya meyakini betul soal itu.
Arus informasi yang terlalu deras, misalnya. Semua orang bisa bicara, semua orang bisa terlihat “tahu”, tapi tidak semua benar-benar punya waktu untuk mencerna ulang secara jernih, jangkep, tepat presisi. Belum lagi tuntutan cepat untuk selalu tampil, selalu cepat, selalu responsif sebagai bagian dalam arus trending topic. Dalam situasi seperti itu, kegelisahan untuk menjadi mendalam atau meneb terlebih dahulu, sering kali kalah oleh kebutuhan zaman untuk sekadar terlihat ada.
Saya pernah duduk di sebuah warung kopi, malam hari, di sudut yang agak sepi. Di meja sebelah, beberapa anak muda sedang memperdebatkan sesuatu yang sedang ramai di media sosial. Suaranya tinggi, argumennya saling beradu, saling potong satu sama lain. Tapi begitu salah satu dari mereka ditanya lebih substansi-filosofis oleh temannya sendiri, jawabannya mulai berputar-putar. Saya hanya diam dan menyimak saja, juga tidak mungkin tiba-tiba ikut nimbrung di sana—meskipun sebetulnya bisa saja saya langsung duduk di samping mereka. Malam itu saya melihat sesuatu: semangat diskusi itu terbukti memang ada, tetapi akarnya belum tentu ada.
Belum lagi jika ditarik ke belakang: sejarah yang tidak sepenuhnya selesai. Cerita-cerita tentang perjuangan yang berujung pada kekecewaan, tentang idealisme yang berbelok arah, tentang harapan yang diam-diam diganti dengan kepentingan baru.
Dalam situasi seperti itu, menurut saya menjadi wajar jika sebagian dari kita tumbuh dengan kebingungan: harus percaya ke mana? harus menaruh harapan pada siapa? Saya juga mulai melihat pilihan hidup saya sendiri dengan cara yang sedikit berbeda.
Menjadi mahasiswa kupu—kuliah pulang—memberi saya ruang untuk bertumbuh dengan cara saya sendiri. Saya tidak terikat pada struktur organisasi, tidak harus mengikuti aturan struktur ritme tertentu, dan bisa lebih leluasa menjelajahi pengalaman yang mungkin tidak saya temukan di ruang formal.
Saya ingat satu malam di kamar kost yang sempit itu. Lampu menyala redup, kipas angin berputar dengan bunyi yang tidak pernah benar-benar hilang. Saya duduk sendirian tepat di pintu kamar, sambil berpikir dan merenung: teman-teman lain mungkin sedang asyik rapat, berdiskusi, atau sibuk dengan organisasinya masing-masing. Sementara saya, justru asyik dengan dunia saya sendiri. Waktu itu saya memang merasa baik-baik saja. Tapi sekarang, kalau coba saya ingat-ingat lagi, ternyata ada ruang yang memang tidak saya masuki sejak awal. Sebuah pintu yang memang tidak saya pilih untuk memasuki ruang di baliknya.
Namun, di sisi lain, saya juga tidak bisa menutup kemungkinan bahwa ada hal-hal yang tidak saya alami. Dinamika kolektif sosial, benturan kepentingan struktural, latihan menghadapi perbedaan dalam ruang diskusi-logis yang lebih terstruktur—itu semua mungkin tidak pernah saya rasakan secara utuh.
Saya tidak sedang menyesali pilihan. Tapi saya mulai belajar melihat bahwa setiap jalan yang dipilih sudah pasti membawa konsekuensinya sendiri. Saya pun mulai memahami dan menyadari bahwa setiap apa pun persoalan yang ada tidak bisa disederhanakan menjadi: individu saja atau sistem saja. Keduanya saling terkait.
Individu yang tidak jernih akan mudah terseret arus. Tapi sistem yang tidak sehat juga akan terus memproduksi kebingungan, bahkan pada individu yang berusaha jernih sekalipun. Di tengah itu semua, pertanyaan tentang “kita” kembali muncul dalam benak saya.
Namun kali ini tidak lagi saya bayangkan sebagai sesuatu yang besar dan abstrak. Tidak lagi soal “kita bangsa Indonesia” dalam pengertian yang terlalu luas. Saya mulai melihat “kita” sebagai lingkar yang lebih kecil, lebih konkret, lebih bisa saya pertanggungjawabkan. Orang-orang yang benar-benar saya temui, saling bertumbuh, dan saling rasa-merasakan kehadirannya secara nyata. Saya menyebutnya sebagai inner circle.
Kemudian saya berpikir dan merasa, mungkin perubahan tidak perlu selalu dibayangkan dalam skala besar seperti level nasional, misalnya. Barangkali perubahan itu cukup dimulai dari ruang-ruang yang benar-benar kita hidupi bersama, sekecil apa pun jangkauannya. Dan, secara sadar berdasarkan ukuran yang rasional tentunya—dalam inner circle kita masing-masing.
Ruang di mana kita bisa saling mengingatkan, tanpa harus saling benci dan mendendam. Ruang di mana kita bisa saling belajar, tanpa harus merasa paling tahu. Ruang di mana kita bisa bebas untuk berhenti sejenak, ketika tubuh, pikiran, dan jiwa tidak sedang selaras.
Mengingat kembali dhawuh Mbah Nun bahwa hidup memang perlu tahu kapan harus ngegas, dan kapan waktunya ngerem. Hanya saja, sekarang saya perlu menambahkan satu hal dari apa yang saya dapatkan sepanjang pengalaman mlaku ke dalam tulisan. Saya kira, kita juga perlu tahu, jalan seperti apa yang sedang kita lalui, dan siapa saja yang sebenarnya ikut membentuk arah jalan itu dalam konteks inner circle.
Sebab, bisa jadi saya atau kita merasa sedang melangkah dengan sadar dan meyakini itu adalah pilihan benar, padahal arah jalannya sudah ditentukan jauh sebelum kita mulai berjalan. Barangkali, pekerjaan kita semua—berpikir dan merasa—memang tidak akan pernah benar-benar selesai. Terus berdinamika sepanjang takdir hidup di dunia ini.
Selanjutnya, saya sadari bahwa kita sebagai manusia tidak punya kehendak dan memilih untuk lahir dari rahim siapa, suku apa, bangsa apa, zaman apa, atau strata ekonomi mana. Semua itu juga semau-maunya Allah SWT. Saya kira, pentingnya untuk membaca, memetakan potensi, memahami, dan mengetahui batasan diri sendiri—menemui arah, maksud, tujuan, dan konteksnya seperti firman Allah SWT dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11, berbunyi:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaga atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah yang tersembunyi dalam nafsiyah (rahasia terdalam pada diri) mereka sendiri. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d ayat 11).
Berangkat dari referensi yang saya baca dalam mukaddimah Kenduri Cinta edisi April 2026, ayat di atas dapat ditadabburi melalui dua pintu perspektif pemaknaan: spiritual sekaligus material. Maka, tiga ayat sebelumnya yang saya jadikan sebagai bahan tadabbur dalam tulisan ini berurutan—mulai dari QS. Adz-Dzariyat ayat 21, QS At-Tin ayat 4, dan QS Ar-Ra’d ayat 11—merupakan bekal sempurna untuk berfikir secara akal maupun hati.
Mbah Nun sendiri telah memetakan secara gamblang sebagai empat tahapan manusia: Mulai dari makhluk, insan, ‘abdullah, dan khalifatullah fil ardl.
Makhluk adalah semua yang diciptakan Allah SWT. Sebagai makhluk, manusia belum memiliki kesadaran. Berikutnya adalah insan atau makhluk yang diberi akal. Manusia menggunakan otak dan akalnya, juga hati dan keadilannya.
Tahapan selanjutnya ialah ‘abdullah; manusia yang sadar akan ketidakberdayaannya, dan ia terkait dengan Allah. Ketika manusia mampu menyadari posisinya sebagai makhluk yang memiliki akal dan hati, dan kemudian menggunakannya sebaik mungkin untuk mengabdi hanya kepada Allah. Lalu berlanjut ke tahap khalifatullah fil ardl; manusia sadar bahwa ia adalah utusan Allah yang diturunkan ke bumi untuk memakmurkannya.
Tahqiq “Manajer Tauhid” (Daur 1 – 253)
“…di mana-mana baik-baik saja. Orang-orang tersenyum dan tertawa. Semua serba tenang. Mal, toko, pasar selalu penuh. Restoran, warung, dan angkringan tetap berputar keras keuangannya. Hobi-hobi tetap dijalankan: memancing, reuni-reuni, klub motor, arisan dan banyak lingkaran-lingkaran sosial lain yang bergerak dan berputar. Tempat-tempat ibadah meriah…”
Namun, semakin saya coba bandingkan dengan kenyataan, saya justru menemukan jarak yang tidak sederhana. Terlalu jauh seperti jarak langit dan bumi. Ketika coba saya tarik ke realitas sehari-hari, gambaran itu rasanya sangat rumit.
Sebab, yang saya dapati sekarang ini, dengan membaca berita-berita di media massa, bahkan saya sendiri sempat menjadi “pelaku” di dalamnya: apa saja yang saya temukan, memang ada yang menggembirakan sekaligus sebaliknya; menyedihkan.
Meski begitu, dari sekian fenomena dan peristiwa yang saya temui, saya merasakan di mana-mana itu baik-baik saja. Masih banyak orang yang gemar ngopa-ngopi di sana-sini, seakan tak ada tanggungan sama sekali, meskipun diam-diam saya yakini mereka juga bingung dan pusing tujuh keliling: memikirkan besok makan apa, hutang ke mana lagi, bagaimana mengelola finansial antara kebutuhan primer dan sekunder, belum lagi soal kebijakan-kebijakan publik yang secara tidak langsung juga berdampak kepada mereka—termasuk saya sendiri.
Saya pernah melihat sendiri, di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan, beberapa orang tertawa lepas sambil menyeruput kopi hitamnya. Candaan mengalir lepas, rokok menyala bergantian. Sekilas seperti tidak ada beban yang mereka pikul. Tapi di sela obrolan itu, sempat terselip kalimat pendek yang saya dengar: “Sesok mangan opo yo? Beras lagi entek. Gampang wis, nggolek utangan dhisik” lalu disambut tawa lagi. Entah itu sungguhan ekspresi tawa, atau cara kreatif dan paling sederhana untuk menutupi kegelisahan sendiri yang tidak akan pernah selesai.
Saya kemudian teringat percakapan antara Brakodin dengan Jitul. Tentang Mbah Markesot, yang informasinya diterima langsung oleh Brakodin sendiri dari Mbah Markesot.
“Cak Sot pernah bilang kepada saya,”Brakodin meneruskan,
“Bahwa kebanyakan orang menyangka Cak Markesot bukanlah dirinya. Ada yang menganggap dia Dukun, Pemikir, Kiai, Preman, perekat antar manusia dan ummat, bahkan diam-diam dia seorang Qori’ juga, dan macam-macam persangkaan lainnya. Padahal menurut Cak Sot sendiri, keahlian utamanya yang ia terima dari Tuhan adalah keterampilan manajemen….”
“Mbah Sot manajer?” Jitul bertanya agak naik suaranya,
“Mbah kalian itu mengatakan bahwa kata manajer dan manajemen selalu hanya dikaitkan dengan urusan membengkaknya uang, materi, dan laba. Memang Mbahmu pernah membuktikan ia mampu di ranah itu. Tetapi yang dimaksud manajemen oleh Mbahmu adalah manajemen sosial. Manajemen perhubungan antara manusia dan kelompok-kelompoknya masing-masing. Manajemen silaturahmi dan komunikasi. Manajemen pembersatuan dan kemesraan. Hakikat dan hulu-hilir semua itu sesungguhnya adalah manajemen Tauhid….”
Cerme, Jumat, 17 April 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair, hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.