
Telulikuran edisi ke-8 Damar Kedhaton (DK) pada tanggal 17 Juni 2017 terasa spesial karena bertepatan pada bulan Ramadlan. Malam itu, energi cinta terpancar dari teras musholla di lingkungan Yayasan Miftahul Hidayah, di mana sebagian dulur-dulur Jannatul Maiyah Damar Kedhaton (JMDK) wilayah selatan terutama dari Dsn. Tlogobedah sedang bergotong-royong menyiapkan apa-apa yang diperlukan untuk acara Telulikuran.
Menjelang pukul 19.23, satu-persatu dulur JMDK mulai berdatangan. Terasa surprise ketika dulur dari Driyorejo yaitu Cak Rezky dan Cak Haqiqi datang dengan membawa 4 buah Damar Kurung dengan desain ala DK yang mereka buat pada siang harinya dengan bantuan Cak Bayu. Tanpa berpikir panjang, dulur yang sudah hadir di lokasi langsung berinisiatif memasang Damar Kurung pada langit-langit teras musholla. (Berita tentang Damar Kurung ini bisa dibaca di http://damarkedhaton.com/2017/06/20/damar-kurung-ala-damar-kedhaton-di-tlogobedah/ )

Tepat pukul 21.15 WIB, acara diawali dengan nderes Alquran juz 8 oleh beberapa dulur dari Mts. Miftahul Ulum. Kemudian Cak Roy, ditemani Cak Dedy, mengajak seluruh JMDK sedikit merapat dalam lingkaran untuk melantunkan wirid dan sholawat, memantapkan hati menghadap pada Allah seraya menyapa Sang Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Sebelum masuk pada sesi diskusi, Cak Gogon mempersilakan Gus Masrur, Gus Sholeh dan Gus Sholahuddin untuk memberikan sambutan selaku tuan rumah. Sambutan pertama diberikan oleh Gus Masrur, salah satu pendiri pondok Pesantren Muhajaddah Miftahul Hidayah yang juga menaungi Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Menurut keterangan beliau, tempat dulur-dulur DK melingkar kali ini bernama Pesanggrahan Banyu Bening. Nama tersebut diberikan sejak pertama kali beliau mendirikan pesanggrahan yang sekaligus berfungsi sebagai tempat ritual para santri pondok tersebut.

“Pepunden Dsn. Tlogobedah, Mbah Pandansari, insya Allah “hadir” di tengah-tengah kita.” kata Gus Masrur. Beliau mengucapkan terima kasih pada seluruh JMDK karena telah memilih Pesanggrahan Banyu Bening untuk melingkar. Dari dulu, beliau memang memiliki harapan dan angan untuk membentuk suatu wadah yang khusus menampung anak muda agar dapat mengembangkan potensi serta kemampuan mereka secara positif.
Gus Sholeh, yang memberikan sambutan berikutnya, langsung mengucapkan salam kepada seluruh JMDK dan juga para pimpinan ghaib yang menurut beliau turut hadir melingkar dan sangat mendukung acara tersebut. Gus Sholeh menceritakan riwayat hubungan beliau dengan alm. Mas Zainul Arifin. “Mungkin di saat kepergian beliau. Tapi percayalah, Mas Zainul masih tetap membersamai kita”, pesan Gus Sholeh. Acara Telulikuran ini membuat beliau sangat senang, terutama pada saat wirid dan sholawat, karena saat itulah beliau melihat dan merasakan energi yang luar biasa.

Demi meneruskan tradisiTelulikuran, Cak Gogon meminta kepada dulur yang baru pertama kali hadir untuk memperkenalkan diri, agar semua saling mengenal. Alhamdulillah, tercatat sebanyak 10 orang dulur baru yang bergabung dalam majelis ilmu Telulikuran kali ini. Mayoritas dari mereka memang sudah sering maiyahan di Padhang mBulan dan BbW. Ada pula yang mengetahui adanya Damar Kedhaton melalui media sosial. Mas Jufri dari Pandaan, salah satunya, adalah jamaah Bangbang Wetan sejak awal berdirinya simpul tersebut pada tahun 2006, dan sekarang ikut bergiat di simpul Sulthan Penanggungan.

Masuk pada sesi ngoncek’i tema “Pasane Remeh, Riyayane Rame”, Cak Gogon mempersilakan Cak Fauzi untuk mbeber klasa sebagai pengantar dan pemantik diskusi. Pertama, Cak Fauzi menyitir pendapat Imam Ghozali yang mengklasifikasikan puasa menjadi tiga tingkatan, yaitu shaumul umum, shaumul khusus, dan shaumul khususil khusus. Pelaku shaumul umum menjalankan puasa sebatas pada kaidah fiqh, meninggalkan makan minum dan berhubungan seks sejak fajar hingga matahari tenggelam. Itulah puasanya orang awam, orang kebanyakan. Sedangkan shaumul khusus adalah puasanya orang khusus, yakni para orang sholeh. Selain berpuasa seperti halnya orang awam, pelaku shaumul khusus juga berupaya betul menjaga indera dan anggota tubuhnya (penglihatan, pendengaran, tangan, kaki, dlsb) dari kehinaan dan perbuatan dosa. Terakhir, shaumul khususil khusus adalah tingkat puasa yang lebih tinggi lagi. Pelakunya berjuang menjaga hati agar tak berpaling dari Allah SWT.
Tiga klasifikasi puasa menurut Imam Ghozali tersebut dapat dijadikan acuan bercermin bagi umat, terutama bagi diri kita sendiri. Telah kita ketahui bersama, bahwa yang berlangsung dalam mayoritas masyarakat adalah shaumul umum. Hal tersebut tidak terjadi begitu saja. Disinyalir terdapat faktor-faktor dan kekuatan-kekuatan yang boleh jadi memang sengaja mendesain dan men-setting situasi, sehingga menjebak mayoritas masyarakat untuk mandeg pada pemikiran puasa umum.

Sebelum membuka sesi tanggapan, untuk menjaga kehangatan suasana, Cak Fauzi terlebih dahulu memberi kesempatan pada semua dulur untuk merefresh pikiran dan hati melalui musik. Cak Pitro langsung berinisiatif menembangkan nomor Ingsun diiringi petikan gitar Cak Haqiqi. Dilanjutkan persembahan Jalan Sunyi dari Cak Rezky. Cak Fauzipun ikut mempersembahkan petikan gitar mengiringi Mbak Wenda menyanyikan nomor lagu Kupu-Kupu.
Garis Akhir Hakekat Puasa adalah Maut

“Aku lek ngadepi pasa iku, waduh… wis pasa, Rek. Tambah tahun tambah susah iki. Perasaan ini sing ta’rasakna. Aku butuh pencerahan, Rek“, Cak Mustofa menanggapi tema secara blakasuta. Menurutnya, sejatinya puasa itu bukanlah hal remeh.
Menit demi menit, kehangatan kebersamaan mencairkan suasana lingkaran Telulikuran. Dulur-dulur menunjukkan antusias merespon tema.

“Kita perlu melakukan Mujahaddah (perjuangan keras) supaya mendapatkan Miftahul (kunci) untuk membuka Hidayah (petunjuk)”, Mas Roy menanggapi tema dengan othak-athik gathuk nama lokasi, dan memohon pada para Kiai dan Gus yang sedang membersamai JMDK untuk menjelaskan.

“Mari belajar puasa dari leluhur, belajar puasa dari Kanjeng Nabi. Berdasarkan terminologi Jawa, puasa adalah pawasa, yaitu ngempet. Ngempet nafsu raga lan sukma“, Cak Apris mengambil referensi puasa dari leluhur dan memadukannya dengan Surah Albaqarah 183. “Ya Allah, kalau Engkau mengharamkam berpuasa di hari rayaMu, tolong ijinkanlah aku berpuasa dari kenikmatan hari rayaMu”, Cak Apris memungkasi responnya secara puitis.
Gus Sholeh memulai jabaran tema lewat lagu Kupu-Kupu. Sebelum menjadi kupu-kupu, ulat dianggap remeh pada awalnya. Ketika menjadi kepompong, ia masih dianggap remeh. Momen ‘rame’ bagi ulat terjadi saat ia mampu mengepakkan sayap menjadi kupu-kupu. Puasa adalah menahan, setelah itu makan, maka munculah kenikmatan. Apabila kenikmatan tersebut dibarengi dzikir, maka insya Allah terjadilah ‘manunggaling kawula-Gusti’. Gus Sholeh menambahkan bahwa manusia terdiri dari empat unsur, yakni : air, tanah, angin dan api. Puasa mengajarkan kita untuk berlatih memproses keempat unsur itu menjadi suci.

Suasana kian gayeng ketika Gus Masrur urun pendapat. Beliau menyampaikan bahwa kita sedang dihadapkan pada suatu zaman yang serba ikut-ikutan. Alasan yang mendasari kita melakukan puasa sebatas karena orangtua dan kakek-nenek kita melakukannya. Inilah gejala umum yang tengah berlangsung dalam diri umat islam. Tak heran jika puasanya pun level shaumul umum. Gus Masrur mengingatkan agar kita berjuang memetik nilai-nilai utama dari puasa, agar puasa kita tak lagi remeh. Hakekat puasa sebenarnya adalah “jahadu nafsahu” yang rentang waktunya “laa akhiralaha ilal maut”. Ramadan adalah training dari Allah, agar selepas bulan puasa, kita bisa terus berjuang mengendalikan nafsu. Garis akhir perjuangan itu bukanlah adzan Maghrib, namun ketika ajal kematian tiba.
Gus Masrur menambahkan perihal hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadr. Coba bayangkan jika tidak dirahasiakan. Niscaya masjid-masjid ramai hanya pada malam tersebut. Dengan dirahasiakan, hampir tiap hari masjid diramaikan oleh jamaah, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadan.

JMDK kian khusyuk menyimak dan menyerap guyuran ilmu yang melimpah dalam majelis. Sambil menikmati kopi hangat dan nyemil pala pendhem, dulur-dulur turut aktif memperkaya dialektika diskusi yang berlangsung. Seperti yang dilakukan Kang Dahlan, selain mengungkapkan rasa syukur atas pencerahan yang didapat malam itu, ia juga mengeluhkan atmosfer puasa yang berlangsung di daerahnya. Warung-warung (kafe) begitu ramai dikunjungi para pemuda saat menjelang sahur hingga mereka pun abai ketika panggilan adzan Subuh tiba. “Justru menjadi hal yang aneh. Saat Ramadan, paginya memang rame, tapi ramainya di kafe”, keluhnya.

Tak mau ketinggalan, Cak Pitro ikut urun rembug dengan mengajukan analogi yang menarik. “Lima jari yang ada di tangan ini menggambarkan diri beserta keempat nafsu kita. Jempol adalah pancer, diri sejati yang mampu membimbing keempat nafsu ; Muthmainnah, Lawwamah, Sufiyah, dan Amarah. Coba lihat, hanya jempol yang mampu menyentuh dan menunjuk keempat jari lainnya. Selain jempol, tidak bisa. Puasa mengajarkan bagaimana jempol menjalankan tugasnya dalam mengendalikan”, ulasnya. Puasa harusnya dilakukan tanpa perlu menggebu-gebu menyongsong hari raya. Bahkan jika perlu, ia menandaskan, “Pasa tanpa riyaya…” Sebagai pamungkas, ia mengajukan pertanyaan, “Apa sebenarnya maknaTakjil?”

Dinamika diskusi ditanggapi oleh Gus Sholahuddin. Pertama-tama beliau mengutarakan kekagumannya atas konsep Maiyah yang betul-betul mewujud di hadapan beliau malam itu, di mana orang-orang muda melingkar, berkumpul bersama, ngopi bersama, dan melakukan pencarian bersama. “Apa yang sedang dicari? Allah. Bersama Allah”, jelas beliau. Terkait tema, Gus Sholahuddin mendeskripsikan bahwa setiap agama pasti memiliki metode sejenis puasa untuk melatih penganutnya “menyepi” dan berproses layaknya kepompong dalam rangka menjadi kupu-kupu yang indah. Beliau mengingatkan, Islam membimbing umatnya bahwa ujung dari perjalanan puasa adalah menuju kondisi tattaqun, manusia yang bertaqwa.
Cak Djalil melanjutkanaliran diskusi dengan mengajukan sebuah pertanyaan, “Disebutkan dalam hadits bahwa tak ada yang bisa menyerupai wajah Kanjeng Nabi ketika beliau rawuh di dalam mimpi. Karena saya belum sekalipun berjumpa dengan beliau baik secara jasad maupun ghaib, maka saya mengharapkan mendapat rambu-rambu agar seandainya saya mimpi berjumpa dengan Kanjeng Rasul, saya yakin betul bahwa beliau memang Kanjeng Rasul.”
Pertanyaan berikutnya dilontarkan Kang Dahlan, “Ada banyak tradsi puasa. Salah satunya adalah puasa Ngrowot. Sebetulnya apakah itu puasa Ngrowot?”
Atas pertanyaan dari Cak Djalil, Gus Sholahuddin memberikan jawaban. Beliau menarasikan kisah Iblis yang mokong tidak mau mematuhi perintah Allah untuk bersujud kepada Adam AS. Anak turun Iblis inilah yang kemudian memerankan diri sebagai penggoda manusia agar ingkar kepada Allah dengan berbagai model penyamaran. Menurut Gus Sholahuddin, dalam konteks penyamaran secara ghoib seperti yang ditanyakan Cak Djalil, hanya sholawatlah yang mampu menghilangkan kekuatan talbis tersebut. “Diawali dengan ta’awudz, syahadat, lalu sholawat, maka segala sesuatu yang bukan dari Allah akan hilang dengan sendirinya”, tegas Gus Sholahuddin.
Merespon pertanyaan mengenai puasa ngrowot, Gus Sholahuddin berpendapat bahwa orang yang vegetarian, lebih cenderung bijaksana dalam menyikapi sesuatu. Watak yang dibawa makanan tentu memiliki saham pengaruh terhadap karakter kita. Gus Sholahuddin mengajak jamaah membandingkan antara singa yang karnivora dan sapi atau kerbau yang herbivora sebagai gambaran. Singa tampak sebagai binatang yang buas, mudah menunjukkan amarahnya dan tak mudah diatur. Sedangkan sapi atau kerbau, mau diapain saja dia tak akan berontak, dia manut pada kehendak juragannya. Harapannya, dengan laku puasa ngrowot, keempat nafsu dapat lebih mudah dikendalikan dan nurut apa kata juragannya, pancer-nya.

Jika saja waktu masih tersedia banyak, sepertinya majelis ilmu Telulikuran akan masih berlanjut terus dini hari itu. Ghirrah jamaah untuk terus melakukan penggalian ilmu masih terpancar pada wajah yang cerah berbinar. Namun, karena semuanya masih memiliki kewajiban untuk sahur, maka sesi diskusi terpaksa harus dipungkasi. Cak Pitro berduet dengan Cak Gogon melantunkan Kidung Wahyu Kalaseba. Tak pelak, hawa khusyuk lekas menyelimuti benak seluruh jamaah. Atmosfer batin kian sakral ketika Cak Roy memandu jamaah bersama-sama mewiridkan Maulan Siwallah. Setelah dipuncaki doa oleh Gus Sholeh tepat pukul 02:30, empat puluhan jamaah membubarkan diri dengan tertib, dan saling berpamitan untuk menabung rindu kembali, menanti perjumpaan di bulan berikutnya. (gon/aif/ddk)