Prolog MIT (Majelis Ilmu Telulikuran) Damar Kedhaton Gresik Edisi #105 – Oktober 2025 “Kegaduhan”

Gaduh
Dunia gaduh
Karena ketiadaannya
Manusia gegap gempita
Tanda tuli telinganya
Memaksa diri bertabur cahaya
Karena sepenuhnya buta
Adapun dalam jiwa
Kurangkai, kurangkum
Spektrum mata burung
Dari angkasa aku menukik
Ke dasar samudera
Kutangkap batu mulia
Endapan 21 milyar usia jagad raya
Dari cakrawala aku terbang
Menabur-nabur cinta
Membagi kasih sayang
Kepada semua koloni di bumi
Yang terbaring kelam
Dalam gelap gulita
(2003-2016)
Kegaduhan bisa bersumber dari luar, bisa juga berakar dari dalam diri. Ia seperti gejala yang bisa lahir dari amarah, bisa juga dari cinta yang kehilangan arah. Maka sebelum menilai gaduh di luar, barangkali kita perlu menelusuri gaduh yang berasal dari dalam.
Puisi Mbah Nun di atas terasa seperti peta perjalanan batin manusia di tengah hiruk pikuk zaman saat ini. Barangkali bisa disebut ada paradoks: manusia memaksa diri ingin “bertabur cahaya” karena sejatinya sedang buta. Manusia ingin bersuara karena tak lagi mampu mendengar.
“Gaduh” bukan hanya terbatas pada persoalan riuh-ramai dunia, melainkan bisa menjadi pertanda betapa banyak hati nurani yang mulai kehilangan pusat kendalinya.
Kegaduhan kini terasa di banyak lapisan kehidupan yang ada di sekitar kita. Misalnya bentuk kehadiran dari luar: berita perang, kekerasan, dan perebutan kuasa membuat dunia seolah tak punya lagi ruang bagi rasa welas asih.
Peristiwa-peristiwa kemanusiaan yang seharusnya menggugah empati, justru malah sering berakhir dalam adu narasi atau adu persepsi.
Kita menyaksikan saat ini, betapa banyak manusia sebetulnya ingin menolong dan berempati, akan tetapi tak tahu harus mulai dari mana. Betapa banyak yang bersuara lantang tapi suaranya tenggelam di tengah algoritma medsos yang ukurannya pada hal-hal yang bukan substansi. Misalnya, viral, lucu, dan joget-joget.
Sementara di dalam diri kita, ada gejala gaduh yang terasa lebih sunyi nan intim. Tentang pertanggungjawaban kita sebagai manusia di hadapan Tuhan, tentang gelisah yang tak pernah selesai, tentang suara hati yang sering kalah oleh ambisi dan rasa takut melihat kondisi dunia saat ini.
Dari dua kegaduhan ini, sedikitnya bisa saling mencerminkan bahwa yang di luar dapat mengacaukan nalar. Sementara yang di dalam mengacaukan rasa. Dan keduanya membuat manusia sering kehilangan arah menuju keseimbangan dan kebenaran sejati.
Maka membicarakan kegaduhan bukan untuk menambah riuh-ramai, melainkan untuk mencari di mana letak sunyi dan kedalaman makna sejati yang perlahan terkikis. Karena hanya di ruang sunyi itulah manusia bisa kembali mendengar, bukan hanya telinga, tapi juga hatinya.
Dulur, setiap kali Mbah Nun menulis, rasanya kita diajak untuk tidak berhenti pada permukaan kata. Tulisan beliau seperti panduan riset kehidupan. Yang mengajak kita untuk membuka mata agar mau meneliti, membaca, iqra kepada diri sendiri sebelum dunia atau lingkungan sekitar.
Beliau sering mengingatkan bahwa mencari kebenaran, sejatinya adalah mencari cahaya. Dan Allah telah menunjukkan jalannya dalam Surat An-Nur ayat 35:
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi… Cahaya di atas cahaya…”
Ayat ini mengajari cara, kita sebagai manusia untuk menempuh jalan menuju sumber terang itu. Ada penelitian, ada tadabbur, ada mi‘raj akal dan hati di dalamnya. Dan mungkin, dalam kegaduhan yang kita alami, kita sedang dituntun untuk menemukan lapisan-lapisan cahaya itu.
Mbah Nun menafsirkan ayat ini sebagai sebuah “metode penelitian” ilahiah, yang melampaui pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Ia mengajak manusia meneliti realitas dengan “kepala kosong”, tanpa prasangka, juga tanpa keberpihakan.
Sebab, tujuan akhirnya bukan sekadar untuk menemukan data atau teori, melainkan menemukan Allah sebagai sumber segala cahaya.
Bukankah itu juga yang selalu kita upayakan dalam Maiyah? Meneliti hidup dengan cinta. Menyelami gelap untuk menemukan terang. Menjadi saksi bahwa cahaya Allah tidak pernah padam, hanya saja ia sering tak terlihat karena tertutup kegaduhan yang kita pelihara sendiri secara diam-diam selama ini.
Maka, Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-105 ini, kita upayakan bersama agar ia bukan sekadar forum diskusi tanpa makna. Mari kita berbareng ikhtiarkan sebagai laboratorium kehidupan. Tempat kita bersama-sama mengiqra’i kegaduhan di luar dan di dalam diri.
Mari duduk melingkar kembali. Kita duduk untuk sinau bareng, ngrasani urip, dan bersama-sama mencari cahaya di atas cahaya dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-105 dengan tema “Kegaduhan”, pada :
Selasa, 14 Oktober 2025
Pukul 20:23
Rumah Cak Khusnul, RT 10 RW 02, Ds. Kesamben Wetan, Kecamatan Driyorejo, Gresik