(liputan 5 milad ke-9 damar kedhaton, 13 desember 2025)

Setiap peristiwa, kejadian, kegiatan, dan apa saja yang kita alami sehari-hari boleh disebut biasa saja. Monoton. Tidak ada yang istimewa, juga tidak perlu dilebih-lebihkan. Sebab, berulang kali setiap hari kita lakukan seperti itu. Dan, itu benar apa adanya. Saya setuju dan bersepakat dalam konteks ini.
Tapi, pada titik-titik tertentu bagi saya ada yang tidak sependapat, yakni soal pemaknaan terhadap apa yang kita alami—yang terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, tercium oleh hidung, tersentuh oleh kulit—dan berbagai bentuk aktivitas lain yang tidak selalu tertangkap secara inderawi.
Banyak peristiwa justru bekerja pada wilayah yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera, tetapi nyata dirasakan dampaknya secara tidak langsung. Untuk mempermudah, sekaligus sebagai upaya saya belajar menjadikan resah sebagai ‘ilmu, saya berupaya menempuh jalan itu, salah satunya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi.
Dalam prosesnya, saya bersyukur hidup di tengah kemudahan teknologi saat ini, terutama dengan kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence. Saya tidak tahu persis sejak kapan kemunculannya. Termasuk juga, saya belum sepenuhnya paham proses bagaimana persiapan kelahirannya sebelum ia menjadi masyhur.
Seingat saya, saya baru mulai berkenalan, berkomunikasi, dan mengakrabi AI sekitar akhir tahun 2024. Bulan apanya, saya tidak ingat betul. Diakui atau tidak, kehadirannya sangat membantu. Seolah ia hadir sebagai asisten pribadi dalam keseharian.
Maka, tulisan ini pun saya kerjakan dengan pendampingan kecerdasan buatan—sebagai teman diskusi, penjernih gagasan, sekaligus kawan memetakan arah berpikir. Keresahan yang saya alami saya olah melalui proses itu, hingga bermuara menjadi pengetahuan baru bagi saya.
Keresahan yang sebelumnya membuat saya bingung—apakah ia bersifat abstrak, batiniah, atau masuk dalam kategori apa—perlahan menemukan arah, maksud, dan tujuannya. Keresahan non-indrawi itulah yang mengantarkan saya pada wilayah-wilayah pemahaman “bahasa logika otak” yang sebelumnya tidak saya ketahui sama sekali.
Bahwa, tidak semua yang saya alami bisa dilihat oleh mata, disentuh oleh tangan, atau didengar oleh telinga. Dari proses itu, saya mulai mengenali sejumlah istilah yang membantu saya untuk tidak tergesa-gesa memberi label atas pengalaman.
Istilah-istilah itu saya gunakan bukan untuk mengunci makna, tetapi bagaimana memberi ruang terhadap pengalaman itu sendiri agar bisa saya baca lebih jujur, jernih, dan apa adanya. Untuk pembahasan yang lebih utuh—yang secara khusus memotret istilah-istilah tersebut dalam resonansi gelombang frekuensi Maiyah—akan saya ulas dalam tulisan tersendiri. Mohon do’a, dulur.