Mengko Lak Eruh-Eruh Dhewe

Sumber : https://images.app.goo.gl/musH7Gmwou9V4dNH7

“Pada 3 Juni 2024, pukul 13.18 dan 13.15 di grup DK, aku menulis chat menyoal idiom “Mengko lak eruh-eruh dhewe” yang dipakai Febrian dengan tentu saja menggaet Cak Madrim sebagai yang mempopulerkannya.

Aku melontarkan tantangan agar dielaborasi penerapan konsep “Mengko lak eruh-eruh dhewe” itu.

Rupanya, hingga kini tantangan itu belum direspon sama sekali di grup.

Belakangan, diam-diam aku menanti Cak Madrim dan atau Febrian, baik secara sendiri-sendiri ataupun bersama-sama, akan menjawab tantanganku itu lewat Kolom Jamaah.” demikian kata Cak Fauzi dalam pernyataan tertulis melalui WhatsApp, pada Jum’at, 18 Oktober 2024.

Lagi-lagi saya “dipaksa” untuk mengeluarkan beragam pertanyaan sekaligus pernnyataan yang sebetulnya sudah lama mengendap di dalam pikiran saya; menjadi misteri dan penuh teka-teki. Sekian tanda tanya meyergap perhatian saya.

Memang, idiom “Mengko lak eruh-eruh dhewe” itu khas ala Cak Madrim. Kenapa? Sebab, saban pertemuan dengan dulur-dulur Damar Kedhaton Gresik, baik itu rutinan Tawashshulan maupun Telulikuran, Cak Madrim kerap melontarkan idiom tesebut.

Saya sendiri juga tidak tahu, sejak kapan Cak Madrim “melahirkan” idiom tersebut. Idiom “Mengko lak eruh-eruh dhewe” jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah “Nanti akan tahu-tahu sendiri”. Bagi saya, ini bukan sembarang idiom. Apalagi dicetuskan oleh Cak Madrim, salah satu dulur Damar Kedhaton Gresik yang istiqomah mendatangi Pesarean makam Mbah Condrodipo, yang terletak di Desa Kembangan, Kecamatan Kebomas saban malam Jum’at.

Rupanya, tantangan yang diberikan oleh Cak Fauzi kepada saya rasanya eman-eman bila tidak saya eksekusi dengan segera. Pasalnya, sudah sering menimpa saya, menjadi pengalaman saya pribadi pula; banyak imajinasi, angan, pikiran, ide, yang terutama terinspirasi dari perjalanan-pengalaman kehidupan saya yang menguap begitu saja. Tidak tercatat, tidak terdokumentasi dengan baik, minimal bisa jadi pengingat. Syukur-syukur dapat dijadikan sebagai bahan pembelajaran bagi anak cucu saya kelak nanti. Omon-omon soal anak cucu, lha wong saya sendiri belum nikah, kok sudah berani bilang begitu. Haha.

Tapi, bukankah Mbah Nun berulangkali berpesan seperti itu? Terkadang, saya juga merasa tertampar keras dengan banyaknya percikan-percikan ilmu-ilmu Maiyah yang sudah diberikan oleh Mbah Nun. Terutama jika saya tidak pernah mengamalkan ilmu itu dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu yang saya ingat yaitu “Nandur, Poso, Shodaqoh, dan ojok arep-arep kapan panen”

Seketika saya juga teringat pada video berjudul “ORDE BARU LARANG JILBAB, CAK NUN LAWAN DENGAN LAUTAN JILBAB | Putcast – Latief S Nugraha” yang diunggah oleh kanal YouTube resmi mojokdotco. Pada tayangan menit ke 47 lebih 45 detik, Kepala Suku Mojok Puthut EA hingga diakhir kalimat “Cak Nun tidak punya kader”. Kemudian direspon oleh Latief S Nugraha pada menit ke 50 lebih 9 detik, ia mengawalinya dengan sebuah pertanyaan, “Dari sekian banyak JM, yang mengkaji apa yang dikatakan, apa yang disampaikan, apa yang ditulis oleh Cak Nun ini seberapa besar?”, lalu disambung pertanyaan yang kedua, “Apakah JM ini membaca juga (karya Cak Nun-red)?”.

Kembali lagi pada pembahasan awal, soal tantangan Cak Fauzi kepada saya untuk mengelaborasi konsep idiom “Mengko lak eruh-eruh dhewe” itu. Untuk diketahui, kutipan pada paragraf pertama dalam tulisan yang saya tulis ini sebenarnya ada latar belakang di baliknya. Yakni, tulisan reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-89 dalam momentum bulan kelahiran Mbah Nun dengan judul “BIJAK KELOLA DIRI BERBEKAL SPIRIT MBAH NUN”,

“SembahNUwun, Feb. Olehmu ikhtiar nulis reportase langsung pasca 23an gak atik turu, muga-muga terbekati,” respon Cak Fauzi kepada saya, setelah saya ngeshare link laman website mymaiyah.id.

Saya meyakini bahwa, keberhasilan saya untuk melawan kemalasan diri, sehingga bisa nulis kembali reportase Telulikuran, setelah sebelumnya bolong dua edisi tanpa reportase tepatnya di edisi ke-87 dengan tema “TADABBUR SHOHIBU BAITI” dan edisi ke-88 dengan tema “DI-SYAWWAL-KAN”; berkah kecipratan energi dan kemauan saya.

Dalam rutinan Telulikuran edisi ke-89 yang masih pada momentum bulan kelahiran Mbah Nun, turut hadir Gus Luthfi, yang mewedar panjang lebar terkait pengalamannya saat mengawal Mbah Nun dalam gelaran Sinau Bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng di berbagai penjuru wilayah di Jawa Timur.

Menurut Gus Luthfi, Mbah Nun sangat disiplin waktu. Mbah Nun betul-betul menghargai berjalannya detik ke menit, menit ke jam. Hingga sedetail itu. “Mbah Nun sangat disiplin sekali dengan waktu, bahkan hitungan 2 (dua) menit pun, itu masuk dalam perhitungannya. Gak ada waktu yang main-main bagi Mbah Nun,” jelas Gus Luthfi.

Berangkat dari diingatkan sekaligus ditantang oleh Cak Fauzi untuk mengulas konsep “Mengko lak eruh-eruh dewe” khas Cak Madrim. Kemudian teringat bahwa Mbah Nun itu sangat disiplin dengan waktu yang saya dapat dalam Telulikuran edisi ke-89, bahkan dari tulisan saya sendiri. Seketika itu juga, saya mencari di mesin pencarian Google dengan kata kunci alias keyword “Menulis menurut Cak Nun”, muncullah beberapa tulisan yang berkaitan dengan “Menulis”. Dari beberapa judul, saya klik tulisan berjudul “Menulis Bukanlah Perkara Gampang” dari laman website caknun.com. Ada satu paragraf yang saya soroti dari beberapa paragraf yang ditulis oleh Yayi Yahya, sebagai berikut :

Saat menjawab pertanyaan salah satu peserta workshop akan bagaimana standar dan batasan penulisan itu sendiri, Cak Nun menuturkan bahwa seorang penulis haruslah memiliki komitmen nilai. “Dalam hidup harus punya patokan,” tuturnya. Sebab itu, Cak Nun juga mengingatkan sebaiknya penulis tidak bersikap liberal (liberalisme). Seorang penulis juga harus sregep (gesit, cekatan). Pada jam berapapun setiap kali Beliau selesai mengikuti suatu kegiatan, Beliau tetap membuka komputer menuangkan hasil pemikirannya atas kegiatan tersebut menjadi sebuah tulisan. “Temukan What yang unik. Imajinasi dan intuisi adalah alat untuk menghasilkan kreativitas dalam menemukan angle yang unik,” ujarnya.

Dari ulasan tulisan saya di atas sebelumnya, saya kira, saya tadabburi, saya asumsikan, saya cermati, saya pelajari; konsep “Mengko lak eruh-eruh dhewe”, lantas kusahut saja pernyataan Cak Fauzi saat menantang saya, persis pada paragraf pertama pembuka tulisan ini. Kurespon itu melalui tulisan dalam WhatsApp, “Mengko lak eruh-eruh dhewe. Tapi, perlu didolek’I supaya jadi eruh. Apakah begitu Cak Madrim?”

 

Jum’at, 18 Oktober 2024

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton, seorang bocah ingusan yang gemar riwa-riwi dan mencari inspirasi dari secangkir kopi.