Ketika Angka 26 Mengubah Arah Tulisan
PART 8 (EDISI 9 TAHUN DAMAR KEDHATON GRESIK)

Ternyata, tulisan esai yang saya buat untuk menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton tidak bisa berjalan persis sebagaimana saya rencanakan sejak awal. Pada 11 November 2025 lalu, saya sudah menyampaikan semacam “janji” lewat grup WhatsApp PAWON – DK. Begini lengkapnya:
“Seperti yang pernah kusampaikan ke Cak Fauzi beberapa waktu lalu. Aku membuat tulisan serial menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton. Total ada 9 judul tulisan. Dua judul tulisan akan aku kirim kemudian. Enam judul lainnya masih perlu proses pengendapan—perlu kubaca ulang siapa tahu ada bagian yang harus ditambah, dikurangi, atau dihilangkan. Satu judul terakhir belum kubuat. Masih mengolah satu paragraf penutup yang akan menjadi benang merah seluruh rangkaian tulisanku.”
Berurutan dari 1–4: Menulis Tanpa Arah Tunggal, Serpihan Surga di Sisi Pena, Puisi Tuhan dan Rumah Keabadian, dan Biarkan Tulisan Ini Menemui Takdirnya Sendiri.
Dari empat tulisan itu, muncul satu tanggapan dari Cak Fauzi: Tak Sekadar Perlu Dibaca, Tapi Ditemani. Kemudian berlanjut ke part 5–7: Menjembatani Lahir Menuju Tafakkur, Fino Alla Fine, dan Membaca Reminisensa dari Pintu Halaman 9.
Namun, seiring berjalannya waktu, banyak perubahan yang muncul dalam proses penulisan saya. Part 5, 6, dan 7 harus saya rombak berkali-kali. Ada bagian yang melebar dan meluas, ada bagian yang menyempit, ada pula bagian yang rasanya perlu saya hilangkan sama sekali. Bahkan, part 6 dan 7 pada akhirnya menjadi tulisan yang benar-benar baru—keduanya tidak berasal dari bahan endapan yang sudah saya siapkan. Begitu pula dengan tulisan part 8 dan 9.
Dan lagi-lagi, ikhtiar ngreksa wasita sinandhi itu nyaris selalu mengendap di pikiran dan hati saya. Tidak bisa saya elakkan; ia menjadi semacam bahan bakar batin. Energi yang tumbuh dan menyuburkan pengalaman batin-lahir saya. Seperti dorongan untuk merawat kegelisahan yang melahirkan pertanyaan-pertanyaan reflektif terhadap apa yang saya amati di sekitar.
Tulisan part 8 ini pun bermula dari satu kejadian amat sederhana dan remeh-temeh: nomor meja antrean 26. Dalam momen itu, saya sempat diam beberapa detik dan langsung membatin, “Lah kok pas tiba di tulisan ke-8, aku diberi tanda ini,” gumam saya. Angka 26 saya maknai sebagai bentuk penjumlahan: 2+6=8.
Spontan saya membuka ibu informasi di website caknun.com dan mengetik angka 26. Lalu muncul puisi karya Mbah Nun, serial 99 untuk Tuhanku, tepat pada nomor 26. Berikut isi selengkapnya:
26 (99 untuk Tuhanku)
Tuhanku
ketika Engkau tersenyum
jiwaku yang papa
jadi ngungun
tapi setelah lama
kutembus bola mata-Mu
aku terlempar keluar
aku takut
pada yang terpantul itu
yang membuatku terdampar
di pulau-Mu
yang samar.
(1983)
Mungkin ini bukan sekadar kebetulan angka, atau angka kebetulan. Atau mungkin justru ini hanya kebetulan—tetapi kebetulan yang sengaja diperlihatkan agar saya mengambil jeda. Berhenti sejenak, merilekskan pikiran, menengok ulang langkah-langkah saya sebelumnya. Dalam perjalanan menulis serial menyambut 9 tahun Damar Kedhaton ini, sering muncul hal-hal yang tak pernah terpikir sebelumnya. Tiba-tiba saya digiring menuju satu teks, satu simbol, satu angka, dan seterusnya.
Ketika bertemu angka 26—puisi nomor 26—entah mengapa ada hal-hal yang sangat lembut terasa. Seolah mengajak saya untuk berpikir ulang, menimbang-nimbang, dan menghadirkan kegelisahan tersendiri. Semacam wasita sinandhi yang mengerem tulisan saya, lalu membelokkannya menuju arah lain yang berbeda dari rute awal yang hendak saya lalui.
Kurang lebih selama tiga hari, sejak “peristiwa yang membuka mata” itu—yakni datangnya angka 26—saya seperti diajak memasuki ruang i’tibar, membaca pelajaran dari peristiwa-peristiwa. Angka 26 itu datang tepat di hadapan saya, di atas meja yang menjadi tumpuan laptop pinjaman J Cellular; sebagai media bagi saya untuk mengetik semua tulisan ini.
Saya sedang belajar “melintas” dari fakta menuju makna: dari fenomena eksternal (kejadian, pengalaman, tanda-tanda, sejarah) menuju ruang kedalaman. Kejadian hadirnya angka 26 menjadi pengalaman yang saya alami, mula-mula hanya tanda, lalu pelan-pelan menjadi sejarah—karena tulisan yang detik ini saya ketik adalah kejadian tiga hari lalu. Hari ini Rabu, 26 November 2025 pukul 03.39 WIB.
Dari situ, orientasi tulisan ini bergerak dari peristiwa menuju insight atau pelajaran. Saya melihat angka 26, lalu menangkap tanda itu sebagai wasita sinandhi yang perlu dibaca dengan mata (melihat), otak (memikirkan), dan hati (menimbang). “Oh, ini tanda bahwa aku perlu membaca, mencari, mengamati, dan menganalisis angka 26 di caknun.com.”
Dorongan itu membuat saya harus “keras” kepada diri sendiri; mengelaborasi lebih meluas, melebar, mendalam, maupun menyempit tentang angka 26 yang merupakan salah satu puisi dari serial 99 untuk Tuhanku. Kegelisahan saya makin menjadi-jadi. Rasa-rasanya saya dihadapkan pada satu titik persimpangan yang bercabang-cabang.
Sebab itu, tulisan part 8—yang sangat baru dan berubah total dari endapan sebelumnya—lagi dan lagi menemukan “sinyal” perubahan arah dan isi tulisan. Ketika lanjutan tulisan ini saya ketik, itu pun sudah merupakan tambahan “baru” dari bahan semula yang saya mulai pada Senin, 24 November 2025—persis ketika foto angka 26 saya jepret lewat kamera ponsel, tepat pukul 00.14 WIB.
Bagaimana pengembangan tulisan saya memaknai puisi 26 (99 untuk Tuhanku) akhirnya mengarah dan menuntun saya untuk menelusuri sekaligus menganalisis secara jangkep asal-usul saya sebelum terlahir di dunia ini. Maka pemaknaan saya terhadap puisi nomor 26 itu akan saya tulis dan kirim pada bagian berikutnya. Saya mohon doa. Dan tulisan selanjutnya berada di luar konteks “janji” saya menulis serial sembilan judul esai menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik.
Rabu, 26 November 2025 (04:23 WIB)
Biarlah setiap kata mengalir bagai embun pagi yang menetes di daun, di tengah lingsir wengi yang sunyi. Padhang mBulan menatap diri dengan tenang, bagas kewarasan makin matang. A(bang)-a(bang) (wetan) menyebarkan sinar, menuntun jiwa dari dhulumat menuju an-nuur. DeKa langit jingga menyalurkan energi hangat menumbuhkan senyum bunga di kedalaman hati. Tak pernah aku menyesali perjalanan yang kulewati tuk memahami kata hati yang menuntunku tanpa henti. Karena rasa dan senyuman itu; segenap cinta aku terima, seolah serpihan surga hadir terasa sebening senja. Menandai refleksi dan syukur dalam menyambut Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik.
Bersambung…
Febrian Kisworo Aji
JM Damar Kedhaton tinggal di Guranganyar, Cerme