Resiliensi Paseduluran di Tengah Zaman Penuh Jebakan
(Liputan 1 Milad ke-9 Damar Kedhaton, 13 Desember 2025 | Perspektif Abah Hamim Ahmad)

Momentum milad ke-9 Damar Kedhaton tidak cukup hanya dimaknai secara simbolis sebagai penanda waktu perjalanan di Gresik. Selain wujud syukur, agenda yang berlangsung di MI Roudhotul Ulum, Dusun Tlogobedah RT 07 RW 03, Desa Hulaan, Kecamatan Menganti, Gresik, pada 13 Desember 2025, dapat pula disebut sebagai ruang jeda.
Kita diajak menengok lebih mendalam—meluas, melebar, atau justru menyempit—terhadap Damar Kedhaton itu sendiri: bagaimana membaca ulang kualitas perjalanan batin, sekaligus menakar ulang daya tahan paseduluran Al-Mutahabbina Fillah di tengah zaman yang penuh jebakan.
Melalui momentum Tawashshulan Bersama—yang diikuti beberapa Simpul atau Lingkar Maiyah di sekitar Gresik—Abah Hamim membuka diskusi dengan mengajak dulur-dulur melakukan refleksi. Ajakan perenungan ini menjadi harapan agar Damar Kedhaton Gresik senantiasa berada di jalan yang diridhai Allah, memperoleh barokah kebaikan dan kemanfaatan, serta diberikan petunjuk.
Abah Hamim juga menegaskan bahwa teks Tawashshulan tidak ditulis dan disusun secara sembarangan oleh Mbah Nun. Bagi beliau, seakan ada getaran yang bekerja diam-diam di dalam wilayah jasad dan rohani kita.
Beliau merasakan seluruh jaringan saraf tubuh ikut beresonansi; aliran darah seakan menyatu dengan kesadaran rohani yang menghadirkan rasa teduh sekaligus kewaspadaan—dalam khazanah ilmu Jawa akrab kita dengar sebagai kesadaran posisi eling lan waspada. Semua yang dirasakan oleh Abah Hamim, sambung beliau, menjadi ikhtiar bersama agar kita selamat ketika melintasi jembatan shirotol mustaqim, kelak di akhirat nanti.
Zaman yang Penuh Jebakan
Abah Hamim Ahmad—sahabat karib Mbah Nun ketika di Berlin, Jerman, dan Patangpuluhan—mengingatkan kita untuk tansah eling lan waspada. Membaca berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita hari ini—baik skala lokal, nasional, hingga internasional—dunia dipenuhi bahaya yang nyata hadir di sepanjang siang dan malam.
“Zaman sekarang banyak bahaya yang mengancam kita. Ancaman yang berupa seperti jebakan iblis. Ancaman itu setiap hari, di sepanjang siang-malam itu nyata hadir di depan kita. Yang berpotensi membuat kita terpeleset pada ruang-ruang pembangunan di segala skala dan level,” jelasnya.
Menurut Abah Hamim, jebakan-jebakan itu bisa berupa slogan-slogan kemajuan, pembangunan, atau bahkan kebaikan semu yang menjanjikan manfaat instan. Dalam jebakan itulah manusia sering terpeleset—pelan-pelan, bahkan tanpa merasa bahwa dirinya sedang jatuh ke dalam jurang kebusukan.
Kita hidup di era ketika hampir semua orang sibuk memikirkan kesehatan jasmani. Pola makan diatur, buah segar diburu, dan rekreasi mahal ditempuh demi menyegarkan pikiran yang penat. Semua itu sah dan boleh-boleh saja kita lakukan.
“Semua aktivitas itu adalah bentuk latihan atau niat kita menuju hidup yang sehat secara badan jasmani,” ujar beliau.
Namun, dalam konteks ini Abah Hamim menyebut bahwa kesehatan jasmani—oleh manusia zaman sekarang—sering kali dianggap berdiri sendiri. Ada wilayah yang luput dari perhatian kita, yakni kesehatan rohani.
Padahal, kata Abah Hamim, manusia tidak hanya terdiri dari tubuh. Ada jiwa dan hati yang juga membutuhkan asupan nutrisi yang sehat dan bergizi. Ketika kesehatan rohani diabaikan, tubuh mungkin tampak sehat, tetapi ada bagian lain yang rapuh: batin.
Menurut Abah Hamim, keretakan batin inilah yang membuat manusia mudah tergelincir ke dalam keculasan, kecurangan, dan berbagai bentuk kerusakan lainnya.

Kesehatan Rohani dan Cara Melatihnya
Menurut Abah Hamim, kesehatan rohani membutuhkan ketenangan. Ketenangan itu perlu diperjuangkan secara terus-menerus, dari waktu ke waktu—sebuah aktivitas sadar yang harus dilatih dalam laku keseharian. Bagaimana ketika kita dihadapkan pada situasi seolah harga diri direndahkan, hati tetap tenang dan tidak mudah goyah; ketika kita disalahpahami, batin tidak meledak atau impulsif.
“Kesehatan rohani itu membutuhkan ketenangan. Ia juga bisa menjadi kekuatan bagi kita. Latihannya itu misalnya gini, ketika kita dihina tidak marah, dan sebagainya,” sambung Abah Hamim.
Jika hati telah kuat—setelah dilatih dan ditempa—dan terbiasa tenang menyikapi beragam situasi, lanjut beliau, maka akan tumbuh apa yang disebut sebagai bashirah. Menurut Abah Hamim, bashirah adalah mata batin atau optik kesadaran yang muncul dari dalam diri.
Dari bashirah itulah kemudian tumbuh akar dan cabang-cabang dimensi spiritual yang lebih luas, yang muaranya adalah makrifat. Pada titik itu, kata Abah Hamim, manusia tidak hanya berjalan di jembatan shirotol mustaqim, tetapi juga memiliki daya cengkeram agar kesadaran tidak mudah terpeleset ke dalam jurangnya.
“Kalau hati sudah kuat, akan muncul optik dan mata, dalam hal ini adalah bashirah. Atau nanti juga bisa muncul akarnya, cabang-cabangnya, dan seterusnya yang muaranya adalah makrifat. Maka, anda akan kuat dan tidak akan terpeleset ketika nanti menyeberangi jembatan Shirotol Mustaqim,” jelas Abah Hamim.
Selain itu, Abah Hamim juga mengingatkan kita semua tentang bahaya pikiran. Pikiran adalah alat yang sangat tajam, tetapi sekaligus menyimpan risiko yang mengancam keselamatan manusia—baik dalam kesadaran orientasi hidup maupun konsep waktu dunia-akhirat.
Karena itu, kata Abah Hamim, di sinilah letak pentingnya kekuatan rohani. Ketika bashirah itu hadir—dihadirkan oleh-Nya—jaringan saraf dalam tubuh kita, bahkan pikiran itu sendiri, akan dijeda oleh kesadaran yang muncul dari ruang hati paling dalam.
Ada semacam jarak: ruang hening, ruang suwung, sebelum kita bereaksi. Ada ruang untuk membedakan dan mengenali—apakah dorongan yang muncul berasal dari nafsu buruk atau bukan—sebelum kita mengambil keputusan. Dari ruang jeda seperti itulah keselamatan—diselamatkan oleh-Nya—sering hadir berkat kekuatan rohani yang terlatih.