Resiliensi Paseduluran: Setia pada Proses di Tengah Kekosongan
(Liputan 2 Milad ke-9 Damar Kedhaton, 13 Desember 2025 | Perspektif Lek Hammad)

Jika pada refleksi Abah Hamim kita diajak merawat kesehatan rohani agar tidak terpeleset di jembatan Shirotol Mustaqim, maka pada sesi berikutnya, Lek Hammad mengajak kita untuk berani menatap kekosongan. Kekosongan yang sering kita hindari, kita takuti, bahkan kita anggap sebagai kegagalan. Padahal, justru di sanalah makna resiliensi paseduluran diuji dan dimatangkan.
Menyerah atau Menyerah Bersyukur
Lek Hammad memulai dengan sebuah contoh sederhana. Misalnya kita membangun sebuah sekolah. Tahun demi tahun berjalan, lalu pada suatu masa jumlah siswa terus menurun. Problem datang bertubi-tubi. Hingga pada akhirnya, sekolah itu tidak memiliki siswa sama sekali.
Pada titik itu, kata Lek Hammad, ada dua opsi pilihan:
- Menyerah dengan sambat, keluh kesah, dan rasa kalah, atau
- Menyerah dengan bersyukur.
Jika menggunakan logika dunia, jawaban yang dianggap masuk akal adalah pilihan pertama. Tetapi jika menggunakan logika akhirat, justru pilihan kedualah yang paling tepat. Maka kalimat yang keluar bukanlah keluhan, melainkan pengakuan penuh kesadaran.
“Oh ya Allah, amanahku telah selesai.”
Contoh ini, menurut Lek Hammad, sejatinya adalah cermin dari perjalanan hidup kita masing-masing—termasuk perjalanan Damar Kedhaton. Setiap proses, pada waktunya, akan sampai pada fase-fase tertentu: tumbuh, stabil, menurun, lalu kosong. Dan kekosongan itu bukan selalu tanda akhir, melainkan tanda peralihan.
“Contoh itu sama seperti kisah perjalanan kita, pasti di suatu titik akan mengalami hal begitu,” kata Lek Ham.
Void sebagai Tanah Batin
Dalam konteks Maiyah secara umum, Lek Hammad menyebut bahwa saat ini kita tengah mengalami void—kehampaan. Namun kehampaan ini tidak perlu ditakuti. Justru, di tanah batin yang sunyi itulah tersedia ruang untuk menemukan kesadaran peradaban baru.
“Di dalam kehampaan, di tanah batin yang sunyi adalah jalan untuk menemukan kesadaran peradaban baru,” tutur Lek Hammad.
Kita sering terjebak pada ukuran keramaian, pada angka, pada tampilan luar. Padahal langit sangat dinamis, dunia teramat luas. Jalan Maiyah—termasuk Damar Kedhaton—tidak selalu berupa lintasan lurus yang tenggelam dan larut dalam arus keramaian.
Ia lebih mirip transformasi keluarga: perlu diperjuangkan bersama, dijalani dengan sabar, dan dirawat dengan tawakkal. Lek Hammad menyebut kondisi ini sebagai sebuah nirwana—bukan dalam arti euforia, tetapi kedamaian yang lahir dari penerimaan.

Membangun Kesepian
Salah satu pesan Lek Hammad adalah ajakan untuk tidak takut pada situasi dan kondisi yang sepi-kesepian. Jangan takut merasa asing, terasing, bahkan diasingkan. Karena hanya melalui keheningan, kesunyian, dan rasa sepi itulah manusia bisa menemukan cita-cita yang mulia.
“Mari dan ayo kita bangun kesepian itu. Jangan takut Sampeyan merasa sepi, kesepian,” ajak beliau.
Pada titik-titik ekstrem—entah puncak kegembiraan atau jurang kesengsaraan—kita sering lupa pada jejak awal. Kita lupa dari mana kita berangkat, nilai apa yang mula-mula kita genggam. Maka Lek Hammad mengingatkan agar pada setiap momentum, kita selalu mengingat jejak awal yang pernah kita masuki.
Kesetiaan pada proses tidak diukur dari seberapa cepat kita sampai, tetapi seberapa jujur kita menjalani setiap tahapannya.