Syukur Itu Perintah atau Kesadaran?
(Cerita 2 Dari Daur Maiyahan Damar Kedhaton, 10 April 2026)

Sejak awal hingga menjelang Subuh, suasana Majelis terasa hidup. Obrolan ringan perlahan-lahan menjadi ruang tafakkur dan tadabbur bersama. Dulur-dulur yang hadir saling melempar gagasan, cerita pengalaman, hingga perenungan yang mendalam. Tidak ada sekat antara yang berbagi dan mendengarkan. Semua hadir dalam posisi yang setara: sama-sama belajar, sekaligus sama-sama mencari makna.
Dua Ranah Syukur
“Jalan Syukur” menjadi tema yang disinaui dulur Damar Kedhaton dalam Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-112. Sebuah perspektif baru mengemuka dalam majelis ilmu Maiyah yang digelar di Rumba Nusantara, Perumahan Alam Singgasana Blok i-14, Cerme, Gresik, pada Jumat malam, 10 April 2026.
Perspektif baru tersebut disampaikan oleh Gus Ainul—suami Mbak Sita—dengan merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7, yang dijadikan cantolan untuk tadabbur bareng dalam majelis ilmu malam itu:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
Artinya: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih“.

Dua frasa dalam ayat tersebut menjadi bahan tadabbur utama: la in syakartum dan la-azidannakum. Menurut Gus Ainul, keduanya mengisyaratkan dua ranah yang berbeda. Pertama, la in syakartum yang diperuntukkan kepada kita semua: manusia. Wilayah kewajiban manusia untuk setia pada proses ikhtiar melahirkan syukur. Sebuah ajakan sekaligus prasyarat bahwa syukur adalah laku, bukan sekadar ucapan lisan.
Kedua, la-azidannakum yang merupakan wilayah hak prerogatif Allah SWT. Sebuah janji ilahiah yang tidak berada dalam kendali manusia, melainkan sepenuhnya menjadi ruang otoritas-Nya yang bersifat mutlak. Dengan tandas, Gus Ainul mengingatkan, “yang menjadi ranah urusan kita sebagai hamba adalah la in syakartum. Sedangkan la-azidannakum itu ranah Tuhan bukan wilayah kita.”
Menurut Gus Ainul, dalam kondisi apa pun manusia tetap perlu berupaya agar kenyataan dan keadaan di luar diri tidak sampai membuatnya tercerabut dari rasa syukur kepada Allah SWT. Sebab, pada hakikatnya, nikmat yang diberikan Allah kepada manusia sudah terlampau banyak tak terkira. Bahkan mustahil dapat dihitung dalam kerangka logis pikiran manusia.
Gus Ainul menegaskan, rasa syukur semestinya tidak membutuhkan berbagai alasan. Ketika syukur masih disandarkan pada alasan-alasan tertentu, manusia berpotensi terjebak pada titik yang perlahan justru bergeser menjadi keluhan, bahkan ngersula.
Bahasa syukur, lanjut Gus Ainul, memang tidak mudah diucapkan. Setiap orang datang dengan bekal pemahaman, literatur, latar sosial-kultural, pendidikan, pekerjaan, hingga pengalaman hidup yang berbeda-beda. Maka, rasa syukur pun tidak bisa diseragamkan, apalagi dipaksakan hadir dalam satu bentuk yang sama.
Syukur, Tafakkur, dan Cara Pandang
Wak Kaji Bombom kemudian merespons. Ia menyepakati dengan apa yang disampaikan oleh Gus Ainul, namun tidak cukup berhenti di situ. Ia memasuki ruang tafakkur, mengajak siapa saja yang hadir untuk merenungi salah satu hadits Kanjeng Nabi Muhammad yang juga dikutip dalam prolog Telulikuran, berbunyi:
“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian (terkait perkara dunia), jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih baik membuat kalian tidak meng-kufuri nikmat Allah.”

Dari hadits tersebut, Wak Kaji Bombom mengaku merasakan kegelisahan. Bukan kegelisahan untuk membantah atau mempertentangkan, melainkan kegelisahan yang lahir dari keinginan untuk menggali lebih dalam: apa sebenarnya maksud, tujuan, arah, sekaligus konteks dari dhawuh Kanjeng Nabi itu.
Di dalam suasana majelis ilmu sinau bareng Maiyah, kegelisahan semacam itu justru dikendurikan untuk dihidangkan bersama sebagai bahan renungan. Apa pun yang muncul tidak dimaksudkan untuk saling mengungguli, melainkan sebagai wujud ikhtiar agar masing-masing bisa menjadi lebih baik dari hari kemarin, melalui jalan kesadaran.
“Kenapa kita harus melihat ke bawah? Itu mungkin adalah tips,” ujar Wak Kaji Bombom, membuka pintu tafakkur bersama.
Menimpali kegelisahan tersebut, Cak Hariono—JM Paseduluran Nyambung Roso—menambahkan perspektifnya. Ia mengingat kembali sebuah pertanyaan yang pernah ia ajukan kepada Mbah Nun dalam forum Majelis Ilmu Maiyah Bangbang Wetan Surabaya. Dari situ, ia mendapati salah satu keunikan Wong Jawa.
Menurutnya, dalam keseharian, orang Jawa, kerap mengucap kata “untung”. Sebuah ekspresi yang menyiratkan kesadaran akan nikmat, sekecil apa pun bentuknya. Di sisi lain, ada pula ungkapan bahwa kemiskinan bisa mendekati kekufuran. Bagi Cak Hariono, dua hal ini saling sambang-sinambung: di satu sisi menjadi pengingat diri, di sisi lain bisa menjadi pemantik motivasi dalam proses sinau bareng.
Sementara itu, Mas John—JM asal Surabaya—mencoba masuk dari sudut pandang yang berbeda. Ia mempertanyakan: mengapa justru dalam hadits Kanjeng Nabi dianjurkan untuk melihat ke bawah? Baginya, hal tersebut berkaitan erat dengan kesinambungan antara “otak kanan” dan “otak kiri”, antara nalar logis dan roso.

Sebagai seorang terapis, ia mengaku sering mendapati bahwa ketika persoalan hanya ditarik ke wilayah akal, sering kali tidak sampai menyentuh ke akar substansinya. Menurutnya, ada pula dampak secara fisik ketika kepala ditundukkan ke bawah. Hal itu bisa menjadi salah satu penjelas mengapa dalam berdoa—lazimnya—kedua tangan menengadah, sementara kepala dalam posisi tertunduk.
“Kalau tidak turun (kepala menunduk—red), ia tidak bisa menunjuk ke kata hati,” ungkapnya sembari memperagakan gerak kepala beserta tangannya. Dalam posisi berdoa, ia mengibaratkan adanya semacam “presisi segitiga” dalam diri manusia—berjarak hanya sejengkal ke arah leher—sebuah ruang tempat rasa, napas, dan kesadaran saling bertemu.
“Saya lebih percaya napas daripada nasab,” tambahnya Mas John. Sebuah penegasan bahwa kedekatan manusia dengan kesadaran dirinya sendiri tidak semata dipengaruhi oleh garis keturunan, melainkan oleh sejauh mana manusia mampu menyelami gelombang tarikan napasnya sendiri.
Syukur sebagai Laku Pengalaman
Cak Fauzi kemudian menambahkan pengalamannya. Ia pernah mentradisikan kepada anaknya semacam latihan untuk mengaktifkan “otak dewasa” sekaligus “otak bayi”. Salah satunya melalui pembuatan jurnal syukur. Sebuah kebiasaan untuk menuliskan apa saja yang disyukuri setiap hari, sekaligus menjadi ruang tafakkur diri: mengapa hal itu patut disyukuri.

Baginya, hadits tentang “melihat ke bawah” bisa dipahami sebagai tips, bukan perintah yang wajib dikerjakan. Ia lebih bersifat opsional, sebagai salah satu metode untuk membantu manusia menjaga kesadaran. “Apakah harus? Ya enggak. Yang wajib itu bersyukurnya,” begitu penekanan yang dipaparkan Cak Fauzi dalam sesi elaborasi tema.
Pandangan tersebut kemudian disambung Cak Huda. Ia menegaskan bahwa kemampuan setiap orang dalam menjalani kesadaran memang berbeda-beda. Cara seseorang menghadapi masalah pun tidak bisa disamaratakan. Apa yang menjadi jalan bagi satu orang, belum tentu berlaku sama bagi yang lain.
“Tips tadi ada benarnya, tapi tidak semuanya harus seperti itu,” ungkap Cak Huda. Uraiannya memberi ruang diskusi yang sehat bahwa kebenaran dalam memproses kesadaran sering kali bersifat kontekstual dan sangat personal.
Cak Teguh—yang sesekali juga akrab disapa Anggara Kasih—membagikan pengalaman yang lebih personal. Ia pernah mengalami momen tak sadarkan diri. Sebuah peristiwa tak terduga yang untuk pertama kalinya ia alami sepanjang hidupnya. Ketika tersadar, darah segar sudah deras mengalir dan bercucuran dari wajahnya.
Dalam kondisi tersebut, pertanyaan yang pertama kali muncul di benak Cak Teguh terasa sangat manusiawi. “Aku lara apa?”. Rasa khawatir dan takut tak dapat dihindari. Namun, di saat yang sama, ia mencoba “ngedhem ati”. Bagaimana ia menenangkan hati sebagai respons awal atas peristiwa yang dialaminya. Dari situ, ia menjadikannya sebagai ruang belajar: ikhlas, syukur, dan ridha.
Bagi Cak Teguh, pengalaman itu merupakan proses dialektika—cara berkomunikasi dengan diri sendiri. Sebuah perjuangan batin untuk terus bergerak menuju ridha dan keikhlasan. Di sisi lain, akal tetap difungsikan sebagaimana mestinya untuk mencari jawaban: sakit apa yang sebenarnya dialami, agar dapat ditemukan jalan penyelesaiannya.
Dari pengalaman tersebut membuatnya semakin sering mengingat Allah, menyadari akan kebesaran-Nya di balik setiap nikmat, bahkan dalam peristiwa yang semula terasa menakutkan.
Merespons pengalaman yang disampaikan Cak Teguh, Mas John—yang juga seorang terapis—mencoba membacanya dari sudut pandang yang berbeda dan lebih mendalam: keterkaitan antara sakit, sehat, dan tauhid. Ia menyinggung tentang nocebo dan placebo.
Secara sederhana, nocebo merujuk pada kondisi ketika pikiran atau keyakinan negatif justru memperburuk rasa sakit atau keadaan tubuh. Sebaliknya, placebo adalah efek yang muncul bukan semata karena obat atau tindakan medis, melainkan karena keyakinan, sugesti, dan kesadaran yang bekerja di dalam diri seseorang.

Bahwa dalam diri manusia, sambung Mas John, sugesti memiliki peran yang tidak kecil. Pikiran dan keyakinan bisa berpengaruh pada rasa sakit, sekaligus juga bisa menjadi jalan menuju pemulihan. Dalam konteks ini, apa yang diyakini seseorang turut memengaruhi bagaimana ia merasakan sakit, sekaligus bagaimana ia meresponsnya.
Dari situ, Mas John kemudian membagikan pengalaman personalnya. Ia mengaku pernah melalui fase sakit, yang membawanya pada proses belajar tentang ketauhidan. Dari rasa sakit itu ia olah ke dalam ruang tadabbur—merenungi, memahami, lalu mengembalikan segala sesuatu kepada Allah.
Baginya, proses tersebut bisa dibaca sebagai bagian dari wilayah placebo—dalam arti bahwa kesadaran, keyakinan, dan cara memaknai sakit turut berperan dalam perjalanan pemulihan sekaligus pendewasaan diri.
“Pembelajaran yang saya ambil: dari sakit, menuju tauhid,” ungkapnya. Namun ia juga menegaskan, bahwa dalam setiap peristiwa selalu ada pilihan—bagaimana seseorang memaknai, merespons, dan melangkah setelahnya—termasuk juga dalam kondisi sakit.