Fakta Tak Sejalan dengan Kebiasaan Berpikir
(Tadabbur Daur Part 9)

Sepulang dari agenda Silatnas Penggiat Maiyah 2025, keresahan semakin membayang-bayangi diri saya. Saya khawatir, jangan-jangan keresahan ini berujung pada depresi. Bicara soal depresi: apa sebenarnya makna kata itu? Dari mana asal-usulnya? Mengapa istilah itu begitu mudah saya tuliskan? Apakah resah merupakan bagian dari depresi, atau depresi hanyalah nama lain dari keresahan yang tak tertangani dengan baik?
Bisa jadi saya hanya sedang FOMO terhadap kata “depresi” itu sendiri: ingin terlihat memiliki problem besar yang menumpuk, atau sesungguhnya belum memahami makna istilah tersebut. Barangkali, kata yang lebih jujur untuk mewakili keadaan saya saat ini adalah resah.
Berbulan-bulan belakangan ini, saya mencoba memaknai bahan sinau dari Mas Sabrang: Menjadikan Resah sebagai ‘Ilmu. Itulah pijakan tujuan saya—semacam fondasi niat batin yang sedang saya bangun dalam diri sendiri, agar setiap keresahan tidak berakhir sia-sia.
Atau jangan-jangan, apa yang sedang saya rasakan merupakan sebagian dari apa yang pernah ditulis Mbah Nun: Sakit Jiwa Sosial (Dimuat dalam buku Surat Kepada Kanjeng Nabi, Emha Ainun Nadjib, Mizan, 1996). Muatan tulisan itu sangat jangkep. Ia merangkum beragam gejala penyakit layaknya bulatan dan lingkaran: saling terkait. Tidak sesederhana dikotomi: jika gejala “sakit A” maka cukup menemui “dokter A”; jika gejala “sakit B”, maka berobat ke “dokter B”.
Memang, sebagai bentuk ikhtiar manusia—dengan kesadaran bahwa tiada daya dan kekuatan selain dari Tuhan—upaya penyembuhan atas sakit yang dialami perlu disampaikan kepada ahlinya. Misalnya, bila mengalami gangguan pada mata, tentu perlu berobat kepada dokter yang menanganinya.
Menariknya, tulisan Mbah Nun tidak berhenti pada lapis pertama tentang ikhtiar manusia ketika merasakan sakit, atau ketika tubuh tak lagi bisa diajak beraktivitas sebagaimana mestinya.
“Di dalam segala filosofi ilmu ketabiban, kesehatan, dan kesembuhan, dapat kita katakan bahwa pihak pertama adalah Allah, dan pihak kedua si penderita; sedangkan dokter, psikiater, atau Mas Dukun tak lebih dari pihak ketiga…”
Dalam versi pemahaman saya, seluruh isi tulisan itu mensyaratkan manusia wajib berusaha mengenali penyakitnya agar menemukan jalan menuju kesembuhan. Tetapi Mbah Nun sekaligus mengajak saya naik satu tingkat level lebih tinggi di atasnya: urusan hasil kesembuhan mutlak berada di tangan Tuhan, setelah manusia berjuang menempuh ikhtiar.
Namun lain soal apabila gejala sakit yang dialami merupakan efek dari penyakit sosial, disinformasi tentang pemahaman hidup, atau salah kuda-kuda mental, intelektual, maupun spiritual.
Penyakit-penyakit semacam itu, sebagaimana dijelaskan Mbah Nun, sangat kompleks dan ruwet. Kadang seseorang sudah tidak sanggup lagi sekadar memahami apa yang sedang ditanggungnya, apalagi merumuskan keruwetan-keruwetan itu satu per satu.
Ada kalanya, sebuah problem sejatinya bukan problem itu sendiri. Kebuntuan, kekosongan, kebingungan, depressed—semua itu baru bisa dipahami setelah digali bersama apa gerangan akar persoalannya. Ternyata, ada faktor-faktor yang sebenarnya tidak cukup kuat untuk menindas mental, apabila seseorang terlatih mendayagunakan akal sehat dan pengetahuan.
Hemat saya, butir ilmu yang dapat saya petik dari tulisan tersebut adalah keharusan untuk terus bergerak: batin sekaligus lahir, jasad sekaligus rohani, akal sehat sekaligus hati nurani—semuanya mesti saya perjuangkan.
“Seorang anak muda gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungannya dan menangis, serta merasa buntu dan tak berarti—hanya karena dulu orang tuanya kaya sekarang melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan!”
Sependek yang dapat saya intisarikan dari tulisan Mbah Nun tersebut berlapis-lapis maknanya. Saya kemudian mencoba berselancar di mesin pencarian Google, mencari beberapa referensi artikel yang kiranya memuat arah dari apa yang ditulis oleh Mbah Nun. Hal ini saya lakukan agar tulisan saya tidak mengambang di ranah afektif-subjektif semata, melainkan menjadi upaya untuk mendekati realitas sosial hari ini berdasarkan data-data faktual yang terjadi.
Sebab itu, saya berupaya “mengawinkan” irisan antara aspek kognitif, afektif, sekaligus psikomotorik—dari saya, untuk saya, dan oleh saya sendiri. Apa yang saya temukan bukanlah sebuah kebenaran mutlak, melainkan ikhtiar saya dalam proses belajar itu sendiri. Untuk memudahkan pemahaman, saya memetakannya menjadi tiga hal: 1) ketauhidan, 2) daulat diri (yakni kemampuan mengambil keputusan secara berimbang antara akal sehat dan hati nurani), serta 3) dampak kebijakan yang telah akut, baik secara sistemik maupun struktural.
Seperti pada sebuah tulisan kolom oleh Mas Doktor M. Naufal Waliyuddin yang, dengan kesadaran atas keterbatasan kemampuan intelektual saya, rasanya cukup mewakili garis besar konteks tentang “kemiskinan waktu”. Tulisan yang terbit pada 31 Maret 2026 itu berjudul Kemiskinan Waktu: Saat Pemuda Dipaksa Bertahan Hidup, Bukan Bertumbuh.
Tulisan tersebut sangat padat, berisi, dan ndaging. Ia tidak hanya menyinggung soal “penyakit sistemik” yang kini telah akut, tetapi sekaligus menyajikan data-data relevan dan mutakhir. Data tersebut bersumber dari hasil riset penelitian yang teruji secara faktual.
Ta’qid
“…kekuatan mental untuk menemukan, menerima, dan mengakui gambar-gambar sejarah kehidupan secara objektif dan apa adanya, yang seakan-akan bertentangan dengan pendapat-pendapat umum yang baku dan sudah mengurat-saraf di akal kita semua”
—Pemimpin Mbatin Allah (Daur 1 – 226).
Cerme, Selasa, 21 April 2026
Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)
JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyair; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.