Manusia Itu Ber – Jalan, Bukan Barang Jadi

Manusia Itu Ber – Jalan, Bukan Barang Jadi

(Tadabbur Daur Part 8)

Syukur kepada Tuhan tak pernah berhenti saya tulis dalam pekerjaan, saya kerjakan dalam tulisan, saya wiridkan untuk mengemis warid-Nya, dan saya olah percikan warid itu dalam wirid kehidupan. Berkat Tuhan yang memperkenankan saya berjumpa dengan rezeki pemahaman sekaligus kesadaran akan Ke(Diri): Ke(Diri) secara geografis maupun psikologis-batiniah.

Saya termangu memandangi hidup-kehidupan ini. Sepanjang hari yang saya rasakan hanya hampa. Belum juga saya temukan ruang nyaman untuk bersandar. Seolah-olah saya berada di luar ruangan, menjadi orang asing di tengah keramaian. Ada potensi depresi yang mengganggu kejiwaan saya, yang membuat saya tak lagi berminat pada kehidupan.

Kenapa? Ya, begitulah yang saya rasakan. Selalu timbul deretan keresahan baru. Pertanyaan-pertanyaan yang mustahil dijawab dalam sekejap. Bukan seperti soal pilihan ganda yang menyediakan opsi jawaban.

Kegelisahan mendalam selalu muncul tatkala saya melihat dunia saat ini. Pemandangan di jalanan terasa keras, panas, dan kaku. Herannya, kebanyakan orang tampak enjoy-enjoy saja: bahagia tanpa beban. Jalanan macet dipenuhi kendaraan bermotor yang tak pernah sepi. Volumenya terus meningkat, pelebaran jalan hampir selalu menjadi proyek pembangunan setiap tahun.

Mereka tetap berangkat ke kantor, ke tempat kerja, nyangkruk ngopi di warkop pinggir desa hingga level Starbucks, datang ke seminar-seminar berbayar dengan sertifikat kompetensi agar mendapat pekerjaan prestisius. Saya melihat dan merasakan, seolah tak ada gelagat oleng oleh nasib yang menipu dan memburu di tengah budaya bersalip-salipan dengan trending topic.

Derasnya arus trending topic menenggelamkan wacana fundamental: filosofinya, kesadaran sejarahnya, yang mengalami penyempitan sekaligus pendangkalan. Semua diukur oleh algoritma, oleh konten-konten FYP yang selalu disodorkan sebagai pilihan utama, bahkan tanpa kita minta dan sadari.

Pariwisata, senang-senang, hedonisme pop, kapitalisme—hampir semuanya diarahkan pada kesadaran materialisme. Hidup-kehidupan seakan menuntun manusia, secara samar dan tak kentara, untuk memasukinya. Apa-apa memang butuh uang, tetapi sistem yang berjalan hari ini secara tidak langsung mencekik kesadaran sejati manusia, membuatnya terlena dari daur inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Maka, perjalanan Ke(Diri) wajib saya jadikan sebagai jalan syukur. Adanya “labeling” pada diri saya, meskipun boleh dianggap gaya-gayaan, tidak masalah. Saya pun sadar, sejak menulis Tadabbur Daur Part 8 ini, masih ada ego, nafsu, dan ambisi dalam diri yang belum sepenuhnya sanggup saya kendalikan.

Kelana – Malio Bara. Semacam rerasan yang bisa saja secara logis disampaikan oleh Pak Sunarno Mahanani Kediri dan DUlur Ainu kepada saya. Sebab diam-diam saya pun masih gemar riwa-riwi, meskipun kadar waktu, intensitas, jumlah, dimensi ruang, dan jaraknya tak seperti tiga sampai lima tahun silam.

Sambil terus berjalan menyusuri lorong waktu, saya berikhtiar memegang teguh kendali diri atas anugerah yang diberi-Nya: akal, ruh, jiwa, dan nafsu. Berkelana menempuh jalan ketidakpastian, melewati jembatan kepastian bernama mati di dunia, menuju Sangkan Paraning Dumadi.

“Sesungguhnya semua manusia diam-diam punya keinginan untuk mendengar suara Tuhan secara langsung. Pada hakikatnya setiap jiwa manusia memendam kerinduan terhadap asal-usulnya dan satu-satunya terminal akhir pengembaraan hidupnya.”

— Emha Ainun Nadjib

Ada golongan manusia yang lahir, bekerja, menua, lalu selesai. Ada pula golongan manusia yang memilih kesadaran kelana. Ia berjalan dengan sadar melawan keraguan diri, menyeberangi lembah kebingungan, mencari arah yang lebih sejati dari sekadar eksistensi dunia.

Namun perlu disadari, kelana saja tidak cukup. Sebab perjalanan bisa berubah hanya menjadi aktivitas hobi untuk memuaskan hasrat psikologis kegembiraan manusiawi tanpa makna. Dhawuh Simbah, ia harus tiba pada lapis kesadaran “Malio-boro”, yang kemudian secara subjektif ingin saya maknai sebagai “Malio-Bara”.

Malio artinya “jadilah wali”: mengelola posisi kekhalifahan, menjadi wakil Tuhan untuk memperindah dunia, memayu hayuning bawana. Malioboro, lanjut Simbah, artinya jadilah wali yang mengembara: mengeksplorasi potensi kemanusiaan, melakukan penjelajahan intelektual, eksperimentasi kreatif, dan berkelana di langit ruhani.

Lalu saya sampai pada pemaknaan bahwa Malio adalah laku menata batin, sekaligus memikul amanah yang telah dititipkan-Nya. Namun hidup-kehidupan di dunia tidak cukup berhenti pada kata kerja semata. Perjalanan masih terus menguji saya.

Maka dibutuhkan bara. Secukupnya, layaknya damar. Nyala yang tidak menyilaukan mata, tetapi bertahan lama untuk menerangi perjalanan. Juga sebagai energi agar tidak mandeg di tengah jalan, agar tetap terus berjalan meskipun sangat lambat, sebab hanya menggunakan sepasang kaki yang tentu tak secepat kereta Whoosh.

Tahqiq.

“Manusia itu keberadaannya adalah berjalan, bergerak, mencari, bekerja, berdoa, mencoba menemukan. Bukan dikasih tahu, disuguhi, dikasih barang jadi, lalu tinggal mengonsumsi.”

Bukan Generasi Cangkir (Daur 1 – 249).

Cerme, Sabtu, 18 April 2026

 

Febrian Kisworo Aji (Kelana – Malio Bara)

JM Damar Kedhaton, bukan sastrawan atau penyait; hanya pengagum semesta kata yang rela menjadi budaknya dan menepi ke gua pertapaan bernama tulisan.