Prolog MIT (Majelis Ilmu Telulikuran) Damar Kedhaton Gresik Edisi #113 – Mei 2026 “CANTRIK DI ZAMAN DIGITAL: MENJAGA JEDA, MERAWAT DAUR”

MUKADDIMAH DAMAR KEDHATON EDISI #113 MEI 2026

Apa jadinya seorang cantrik di zaman ketika orang merasa sudah berguru hanya karena menonton potongan video? Ketika keluasan ilmu diringkas menjadi konten, kedalaman nasihat dipadatkan menjadi caption. Tatkala pengalaman panjang seorang guru diiris-penggal menjadi kutipan-kutipan pendek yang mudah dibagikan. Lantas kapan sempat diendapkan?

Hari ini, apa saja terasa kian dekat. Ilmu tinggal satu klik. Pengajian tinggal satu reels. Petuah tinggal satu story. Hikmah tinggal satu slide carousel. Tetapi yang cepat sampai di mata, belum tentu sempat hinggap ke dada. Yang sering melintas di kepala, belum tentu menjelma menjadi kesadaran jiwa.

Nampaknya, di sinilah kita perlu menengok kembali makna kecantrikan?

Dalam tradisi pewayangan, cantrik bukan sekadar pembantu dalang. Ia adalah orang yang memilih untuk mendekat, tinggal di sekitar lakon, menyiapkan, menemani, sekaligus menyerap. Ia tahu betul alur cerita bukan karena diberi ringkasan ceramah, melainkan karena ikut berada di dalam proses. Cantrik belajar bukan hanya dari ucapan dalang, tetapi dari cara dalang diam, menata, memilih jeda, menggerakkan lakon, dan menjaga keseluruhan irama. Apa yang ia tangkap tak berhenti pada pengetahuan, melainkan merembes menjadi rasa, ritme, bahkan cara memandang hidup dan kehidupan.

Cantrik tidak belajar secara tergesa-gesa. Ia belajar dari kedekatan, pengulangan, kesabaran, kesalahan, teguran, diam, dan waktu. Di situlah bedanya cantrik dengan penonton. Penonton pulang membawa kesan. Cantrik pulang membawa perubahan cara hidup.

Maka kecantrikan tidak pernah cukup dimaknai sebagai aktivitas sesaat. Bukan sekadar hadir, mendengar, lalu pulang. Kecantrikan adalah laku yang berulang. Ada kedekatan lahir-batin yang dijaga. Ada kesabaran yang dilatih. Ada kesediaan untuk tidak tergesa memahami. Ada ruang di dalam diri yang sengaja disiapkan agar ilmu tidak hanya mampir, tetapi merembes dan mengendap.

Namun, hari ini kita tiba di zaman yang ritmenya sangat cepat. Apa yang pagi ini ramai, malam nanti bisa basi. Perhatian kita ditarik ke sana-kemari oleh notifikasi dan algoritma. Dalam satu waktu, kita bisa melompat dari satu hal ke hal lain tanpa benar-benar sempat menaruh fokus perhatian secara jangkep. Jeda waktu untuk menyerap sekaligus memaknai, pelan-pelan hilang diuntal oleh yang namanya kecepatan.

Kita cepat tahu, tetapi belum tentu paham. Kita cepat berkomentar, tetapi belum tentu sempat menimbang. Kita cepat membagikan nasihat, tetapi belum tentu memberi waktu kepada diri sendiri untuk dijewer dan dicengkiwing oleh nasihat itu. Kita tidak kekurangan informasi. Yang mulai langka adalah kesanggupan untuk diam, menyimak, dan mengendapkan.

Zaman digital memang memberi kita banyak pintu. Tetapi tidak semua pintu membawa kita masuk ke ruang ilmu. Sebagian hanya menyeret kita ke lorong konsumsi yang tidak habis-habis. Kita merasa sedang belajar, padahal mungkin hanya sedang berpindah dari satu potongan ke potongan lain. Kita merasa sedang berguru, padahal mungkin hanya sedang mengikuti akun. Kita merasa dekat dengan ilmu, padahal barangkali hanya akrab dengan kutipan-kutipannya belaka. Itulah barangkali yang disebut dengan ilusi berguru di zaman digital.

Bukan berarti kita menolak teknologi. Bukan berarti kita harus memusuhi media sosial. Digital tetap bisa menjadi alat, jalan, metode. Tetapi cantrik perlu tahu: alat tidak boleh menjadi tuan, wasilah jelas bukan ghoyah. Kecepatan tidak boleh merampas kedalaman. Akses tidak bisa menggantikan adab. Informasi tidak bisa dianggap setara dengan ilmu.

Dari Mbah Nun, kita belajar bahwa Maiyahan bukan sekadar forum. Maiyahan adalah laku daur. Kita datang, duduk, mendengar, bertanya, tertawa, diam, pulang, lalu kembali lagi. Berulang. Tidak selalu dengan jawaban yang langsung jadi atau kesimpulan yang rapi. Tetapi justru dalam pengulangan itu, ada sesuatu yang pelan-pelan bekerja di dalam diri.

Daur mengajarkan bahwa waktu tidak hanya bergerak lurus ke depan. Waktu juga mengajak kita pulang. Dari perulangan itu, kita belajar untuk memberi kesempatan untuk kembali—melihat ulang, merasakan ulang, dan memperbaiki cara kita memaknai. Dalam daur itu, kita diingatkan bahwa hidup bukan sekadar berangkat mengejar sesuatu, tetapi juga kembali kepada asal. Dari Allah kita datang, kepada Allah kita kembali. Maka Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un bukan hanya untaian kalimat duka, melainkan peta perjalanan hidup

Hampir tiga tahun kita tidak dibersamai Simbah secara langsung. Kangen itu nyata. Tidak perlu disangkal. Bahkan mungkin kangen itu perlu, sebab ia tanda bahwa ada cinta, ada kedekatan, ada hutang batin yang belum selesai kita rawat.

Tetapi kangen yang tidak naik kelas bisa berubah menjadi tuntutan. Kangen yang berhenti di romantisme hanya akan membuat kita terus menoleh ke belakang. Padahal pusaka ilmu yang diteladankan Simbah bukan untuk sekadar disimpan sebagai kenangan, namun agar dijaga, dilanjutkan, dan dihidupi.

Maka mungkin inilah saatnya rindu berubah menjadi kesanggupan. Kita belajar menjadi cantrik yang sanggup menjaga-teruskan laku daur agar Simbah tidak khawatir bahwa pusaka ilmunya hanya kita jadikan kutipan, arsip, atau nostalgia.

Kita sedang terus belajar menjadi cantrik. Bukan cantrik yang merasa sudah dekat, merasa sudah paham, dan sibuk mengaku sebagai pewaris. Kita sedang belajar menjadi cantrik yang pelan-pelan menata wadah dirinya: akalnya, hatinya, adabnya, kesabarannya, serta kesanggupannya untuk menjalani ilmu dalam kehidupan sehari-hari.

Dulur, mari melingkar kembali bersama, saling meneguhkan, serta merawat daur yang telah lama kita jalani—yang kini memasuki tahun kesepuluh. Kita hadir kembali secara lahir dan batin dalam Majelis Ilmu Telulikuran Maiyah Damar Kedhaton Gresik edisi ke-113, dengan payung tema “CANTRIK DI ZAMAN DIGITAL: MENJAGA JEDA, MERAWAT DAUR”, pada:

Hari/Tanggal : Sabtu, 9 Mei 2026
Pukul               : 20.23 WIB
Lokasi              : Pendopo Makam Siti Fatimah binti Maimun Desa Leran, Manyar, Gresik
Gmaps              : https://maps.app.goo.gl/BGrMp92SWAhwSrtW6

(Redaksi Damar Kedhaton)