
Sedikit Bukan Masalah
Pak Syaiful lalu berbagi kisah ketika ditugasi Mbah Nun menghadiri Milad Simpul Maiyah Blora, Lumbung Bailorah. Jamaah yang hadir saat itu bukanlah santri-santri dengan bacaan Al-Qur’an yang fasih. Banyak yang masih terbata-bata, bahkan secara penampilan fisik jauh dari citra santri.
Namun justru di situlah Mbah Nun merasa takjub. Mereka gelem melu tawashshulan, sholawatan, dan sinau bareng. Dari peristiwa itu, Pak Syaiful menegaskan bahwa kuantitas bukanlah persoalan utama.
Keresahan akibat sedikitnya jamaah tidak perlu dibesar-besarkan. Terus saja berjalan. Prinsip ini berulang kali ditegaskan Mbah Nun, termasuk di Padhangmbulan. Mengapa? Karena ukuran Allah tidak pernah sama dengan ukuran manusia. Mbah Nun tidak pernah mempersoalkan jumlah jamaah dalam Maiyahan.
Kelompok Kecil dan Kesabaran
Dalam konteks ini, Pak Syaiful merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 249, khususnya pada terjemahan,“Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Allah bersama orang-orang yang sabar.”
Ayat ini mengajak kita untuk bertanya: Maiyah hari ini sedang berada di ayat yang mana? Jika dengan husnuzan dan kesadaran terus belajar kita menempatkan diri sebagai kelompok kecil itu, maka rasa sepi menjadi konsekuensi yang wajar.
Allah secara terang benderang menjelaskan bahwa jumlah ataupun kuantitas tidak pernah dijadikan ukuran utama. Allah bersama orang-orang yang sabar. “Jika dihusnudzoni dan disadari sebagai proses belajar, maka tidak heran jika kita sering merasa kesepian,” ujar Pak Syaiful.
Al-Mutahabbina Fillah: Akibat, Bukan Sebab
Pak Syaiful kemudian mengajak jamaah membedah istilah al-mutahabbina fillah. Apakah ia sebab atau akibat? Jawabannya: akibat. Tali paseduluran yang terhubung oleh cinta karena Allah adalah hasil dari orientasi nilai yang tepat.
Di mana Allah ditempatkan sebagai pusat kesadaran dalam menjalani takdir hidup—dengan kesadaran khalidina fiha abada, hingga akhirat kelak. Dalam titik inilah tema Resiliensi Paseduluran menemukan resonansinya.
Resiliensi bukan sebab, melainkan akibat. Sebabnya adalah Allah sebagai orientasi nilai utama. “Kesadaran yang wajib kita tanamkan adalah bahwa Allah yang menjadi orientasi utama kita dalam hidup,” ungkap Pak Syaiful.