Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada
(Liputan 4 Milad ke-9 Damar Kedhaton, 13 Desember 2025 | Perspektif Pak Syaiful Omah Padhangmbulan)

Saya meyakini ada banyak persentuhan batin yang kita alami selama ber-Maiyah. Tidak sedikit pula peristiwa yang rasanya tak cukup dipahami oleh nalar. Ia hanya bisa dibaca melalui bahasa rasa—rasane ati—yang dimiliki masing-masing individu, dan tentu berbeda satu sama lain.
Perbedaan itu tidak semestinya disempitkan sebagai ukuran kualitas batin atau spiritualitas. Arah pemahamannya bukan lagi dari kita kepada pemilik rasa, melainkan sebaliknya: Sang Maha Pemilik Rasa-lah yang sejatinya menghadirkan rasa ayem tentrem ke dalam hati manusia.
Seperti yang dirasakan Pak Syaiful—Achmad Saifulah Syahid—anggota Redaksi CakNun.com yang juga bergiat di Omah Padhangmbulan Jombang. Setiap kali hadir dalam Maiyahan, di mana pun dan kapan pun, selalu muncul getaran haru yang mengalir tanpa diminta. Getaran itu, bagi beliau, seketika mengantarkan ingatan kepada Mbah Nun.
“Ketika hadir di acara seperti ini, sakjane rasane kudu mbrebes mili,” ujarnya. Termasuk ketika mengikuti agenda Tawashshulan Bersama dalam momentum Milad ke-9 Damar Kedhaton Gresik.
Hadir Melampaui Jasad
Pak Syaiful kemudian mengingat kembali dhawuh Mbah Nun yang sangat membekas dalam batin beliau. Pada suatu kesempatan, Mbah Nun menyampaikan kepadanya bahwa setiap kali Maiyahan digelar—di mana pun, kapan pun, dan dalam kondisi apa pun—selalu ada dua keadaan.
“Nalika jasadku ora hadir, kuwi tegese aku tetep melu hadir nang kono.”
Dhawuh itu, lanjut Pak Syaiful, kemudian direspon oleh Allahu yarham Syekh Nursamad Kamba dengan nuansa spiritualitas yang sangat mendalam. “Subhanallah… ini kalau bukan maqam fana’, tidak mungkin memberikan pernyataan seperti itu.”
Dalam gelombang batin semacam ini, dari perspektif keyakinan, kualitas keimanan justru kian dipertebal—terlebih dhawuh tersebut ditegaskan oleh Syekh Nursamad Kamba.
Pada titik ini, Pak Syaiful tidak lagi memosisikan kesadaran batin pada level yaqin ataupun ‘ainul yaqin, melainkan haqqul yaqin dalam makna iman yang sesungguhnya.“Sebagai bentuk syukur, saya haqqul yaqin beliau (Mbah Nun) hadir di tengah-tengah kita saat ini.”
Membaca Milad: Hitungan Mundur atau Langkah ke Depan?

Alih-alih memberi ucapan selamat ulang tahun secara normatif, Pak Syaiful justru melemparkan pertanyaan reflektif yang menggugah fondasi cara berpikir kita. Setiap momen milad—baik Damar Kedhaton maupun simpul-simpul Maiyah lainnya—selalu ditandai dengan angka.
“Kenapa selalu ditandai dengan angka atau bilangan? Itu dibaca sebagai hitungan mundur atau hitungan ke masa depan?”
Apakah angka sembilan ini menandai gerak mundur—9, 8, 7, 6, hingga 1? Ataukah justru menjadi pijakan awal untuk menatap sembilan tahun ke depan: Damar Kedhaton akan menjadi apa, berjalan ke mana, dan mengambil peran seperti apa?
Bagi Pak Syaiful, cara membaca momen milad perlu diperhatikan agar kita tidak terjebak pada angka. Angka hanyalah penanda sejarah. Yang jauh lebih penting adalah progresivitas kesadaran untuk melangkah ke depan.
“Dua hal ini perlu kita pertegas bersama, dan perlu dipikirkan.”