Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada

Merawat Damar Kedhaton Sepanjang Ikhtiar Khalidina Fiha Abada

Pak Syaiful mengajak Damar Kedhaton menengok kembali ke akarnya. Akar memang tidak tampak di permukaan, tetapi memiliki fungsi vital sebagai penopang utama agar tidak mudah goyah oleh dinamika cuaca zaman.

Pada titik ini, saya sendiri masih belajar membaca dan memahami: apa sejatinya akar Damar Kedhaton? Sejauh mana ia telah tertanam, hidup dalam laku keseharian—terhadap sesama, terhadap lingkungan, dan terhadap Gresik?

Sesi elaborasi tema : Dulur Jamaah Maiyah dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur menyimak pemaparan dengan serius dalam suasana majelis ‘ilmu Maiyah yang dimoderatori Cak Majid (Foto: Gogon/Damar Kedhaton)

Pak Syaiful juga mengajak menadabburi: surat Al-Qur’an apa yang paling mendekati cerminan Damar Kedhaton? Menurut beliau, sekurang-kurangnya mendekati Surat An-Nur yang punya terjemahan cahaya. Damar sebagai lampu (memancarkan cahaya-red), Kedhaton sebagai misykat, tempat cahaya itu diletakkan. Di dalamnya ada zujajah, ruang bening yang menjaga nyala cahaya.

Apa yang harus kita lakukan untuk merawat ruang cahaya itu? Saya sendiri masih terus belajar menjawabnya. Maiyah, sebagaimana diwariskan Mbah Nun, tidak pernah diniatkan menjadi institusi atau ormas. Ia memilih tetap cair—sebagai getaran nilai, bukan padatan administratif. Di tengah kegaduhan orientasi duniawi hari ini, pilihan itu justru terasa semakin relevan.

Bahkan, Mbah Nun sendiri berulangkali menegaskan, “Rek, Maiyah iki dudu aku sing nggawe. Aja ndadekna Maiyah iki sebagai organisasi, ormas, lembaga, parpol, institusi, atau padatan-padatan lainnya.”

Khusus catatan pada bagian sub judul terakhir ini pun sebenarnya belum tuntas. Di luar konteks itu, saya merasa perlu segera menuliskannya untuk menjaga momentum Milad ke-9 Damar Kedhaton agar tidak lekas hilang.

Sehingga, pendalaman atas konteks—merawat Damar Kedhaton sepanjang ikhtiar khalidina fiha abada—ini akan saya tulis secara lebih utuh dan terpisah pada tulisan berikutnya.

Mohon doa. Semoga setiap kata yang saya tulis senantiasa dibimbing, diperjalankan, dan dipertemukan menemui takdir-Nya di momen yang tepat.

Cerme, 19 Desember 2025

Febrian Kisworo Aji
Redaksi Damar Kedhaton Gresik